Monday, May 18, 2009

Pejuang Perdamaian Yang Anti WC (Peace Fighter Who Is Anti WC)

Sun, Nov, 10, 2008

Laporan Rakyat Merdeka Dari Athens, Ohio, AS (14)
Rakyat Merdeka Report from Athens, Ohio, US (14)

Muhammad Rusmadi

Pejuang Perdamaian Yang Anti WC
(Peace Fighter Who Is Anti WC)

Hari itu Senin (3/11), hanya sehari menjelang pemilihan presiden (pilpres) Amrik. Saya menyambangi beberapa titik di kota Athens, Ohio. Salah satunya, Board of Elections (BE), semacam kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Indonesia. Ternyata disini lumayan ramai warga Athens yang sedang mengantri untuk memberikan suaranya. Hari itu adalah hari terakhir warga yang ingin melakukan pencoblosan awal (early voting).
Tapi di depan gedung State Court House, bersebelahan dengan gedung BE ini, saya menyaksikan pemandangan menarik lainnya. Setidaknya empat orang tua sedang berdiri di pinggir jalan. Masing-masing memegang kertas besar bertuliskan sejumlah tuntutan. Di antaranya, 'End the Occupation in Iraq and Palestine' (Akhiri Penjajahan di Irak dan Palestina), 'Bring the Troops Home' (Pulangkan Tentara).
“Wah, ada demo nih,” pikir saya. Saya mengamati dari seberang jalan, karena rasanya saya mengenal pria tua dengan jenggot lebat putih itu. “Astaga. Itu kan Arthur Gish?,” benak saya lagi.
Ya, Athens memang kota tempat tinggal dia. Sejak dari Jakarta, sebenarnya saya sudah ingin bertanya pada rekan-rekan saya yang pernah mengundangnya ke Indonesia, namun tak kunjung sempat. Art –demikian ia biasa disapa-- adalah aktivis perdamaian yang menentang berbagai bentuk aksi kekerasan. Termasuk kehadiran pasukan Amerika dan sekutu di Irak yang dia anggap penjajahan. Juga pasukan Israel di Palestina.
Art begitu terkenal di sejumlah kalangan aktivis anti kekerasan –termasuk di Indonesia-- ketika sebuah bukunya yang berjudul Hebron Journal diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diluncurkan. Pada cover edisi buku itu dipasang foto bagaimana Art menantang sebuah moncong tank tentara Israel.
Gish menulis tentang peristiwa yang dia alami di foto itu, “Sebuah tank datang menderu di hadapanku. Moncong raksasanya mengarah kepadaku. Aku mengangkat kedua tanganku di udara, berdoa, dan berteriak, ‘Tembak, tembak! Baruch hashem Adonai! (Terpujilah nama Tuhan!’) Tank itu berhenti beberapa inci di hadapanku. Aku lantas berlutut di jalanan, berdoa dengan tangan terangkat di udara. Aku merasa sendiri, lemah, dan tak berdaya. Aku hanya bisa menjerit kepada Tuhan.”
Menariknya –terlepas kita setuju atau tidak-- dia mengaku beragama Islam, di samping juga Kristen. “Bukankah Tuhannya sama,” kata dia santai. Ini jawaban saat dia ditanya soal agama ketika tampil dalam sebuah acara talk show di Jakarta. Acara itu ditayangkan live oleh sebuah stasiun televisi di Jakarta pada pagi hari. Jawaban ini juga yang dia berikan kepada saya, ketika saya iseng bertanya soal agamanya ini.
Saya cuma manggut-manggut. Untungnya saya pernah belajar Studi Perbandingan Agama yang salah satu teorinya adalah, semua agama sebenarnya sama, menyembah pada satu Tuhan yang sama. Meski ekspresinya yang kemudian beda-beda. Termasuk dalam menyebut nama Tuhan. Istilahnya, 'banyak jalan menuju Monas'. Begitulah kira-kira. Terserah kita setuju atau tidak.
Saya hanya tak menyangka malah bisa bertemu Art secara tak sengaja seperti kemarin itu. Tadinya saya malah berencananya mencari alamatnya. Syukurlah, akhirnya ketemu.
Belakangan, Art bilang, rumahnya sekitar 10-an kilometer dari pusat kota Athens. Saya sebenarnya penasaran ingin bertandang ke rumahnya. Tapi karena jadwal kami tak bisa bertemu, akhirnya saya gagal main ke rumahnya. Dari cerita seorang rekan, Art juga penggiat tanaman non-organik. “Kalau mau gampang cari aja dia (Art -red) di pasar sayur tiap Sabtu pagi. Dia jualan kok,” ungkap Arin, Presiden Asosiasi Mahasiswa Indonesia (Permias) di Athens, satu ketika saat bertemu saya.
Belakangan juga, Art memang bilang dia punya sekitar tiga hektar kebun tanaman non organik. Saya dengar juga dari kawan, rumahnya sangat bersahaja. Malah konon nggak punya WC, karena –maaf-- “ampas buangan” itu dimanfaatkan juga buat pupuk. Ehem! Satu ketika, supir yang mengantar beberapa rekan Indonesia ke rumahnya malah mengaku malu. “Mending ajak ke rumah saya (si supir -red) aja kalau bawa tamu dari luar (Amerika). Malu-maluin.” Begitu kira-kira si supir itu pernah berbisik. Sayang, saya tidak bisa mengkros-cek hal ini.
Menyangkut aksinya hari itu, Art menyangkal ini terkait pilpres Amrik yang sedang digelar. “Ini (demo -red) agenda rutin kita. Selama satu jam tiap hari Senin, kami berdiri disini,” ungkap Art sambil tersenyum bangga akan bentuk perjuangannya. (Bersambung)

Berkenalan Dengan Fotografer Obama (A Conversation with Obama’s Photographer)

Sat, Nov, 8, 2008

Laporan Rakyat Merdeka Dari Athens, Ohio, AS (13)
Rakyat Merdeka Report from Athens, Ohio, US (13)

Muhammad Rusmadi

Berkenalan Dengan Fotografer Obama
(A Conversation with Obama’s Photographer)

Saya merasa beruntung saat berada di kota Athens Ohio, dikenalkan dengan Pete Souza. Dia adalah fotografer Barack Obama saat presiden Amerika ini baru merajut karir politiknya sebagai senator. Saya menemuinya Senin (3/11) lalu, hanya sehari menjelang pencoblosan pemilihan presiden (pilpres) yang akhirnya memenangkan Obama sebagai presiden Amrik.
Saat ini, Pete lebih banyak menghabiskan waktunya dengan mengajar di sekolah jurnalistik sebagai asisten profesor di School of Visual Communication, Sripps College of Communication, Ohio University. Sekolah ini merupakan salah satu sekolah jurnalistik terbaik di Amerika Serikat. Meski demikian, di saat yang sama Pete juga masih menjadi fotografer freelance. Saat Amerika dipimpin Presiden Ronald Reagen, dia menjadi fotografer Gedung Putih waktu itu.
Sambil ngobrol, Pete pun memperkenalkan alamat website-nya, www.petesouza.com. Disini bisa disaksikan display foto-foto hasil jepretannya saat Obama baru dilantik sebagai senator mewakili negara bagian Illinois. Juga sejumlah perjalanan Obama sebagai senator yang sering dia ikuti. “Waktu itu cuma saya satu-satunya fotografer yang mengikuti dia (Obama -red),” ungkap Pete. Sementara fotografer lainnya umumnya tidak tertarik bergabung bersama Obama.
Bisa dilihat, jepretan-jepretan Pete saat di Rusia, misalnya. Karena saat itu Obama memang sama sekali tidak dikenal, orang-orang tak ada yang memperhatikannya alias cuek. “Coba Anda perhatikan, orang-orang di sekitar dia (Obama -red) nggak ada yang memperhatikan dia kan?,” ucap Pete, sambil menunjukkan hasil jepretannya saat Obama mengadakan kunjungan ke Moscow itu. Di foto itu terlihat orang-orang seperti sedang mengantri ke arah kanan. Sementara Obama di sebelahnya menghadap arah berlawanan, tak ada yang memperhatikan. “Coba kalau sekarang,” ungkapnya. Foto tersebut menurut Pete diambil sekitar tiga tahun lalu.
Juga saat Obama ikut menghadiri konferensi pers bersama para Senator lainnya, perhatian saat itu hanya tertuju kepada Richard Lugar, Senator gaek asal negara bagian Indiana. “Anda bisa lihat, kemana arah semua mikrofon ini ditujukan kan?,” tambah bekas fotografer Chicago Tribune Biro Washington ini lagi. Di sebelahnya, Obama tampak hanya melamun memperhatikan Richard.
Yang menarik buat Pete adalah, Obama terasa selalu pas dijepret dari sudut manapun. Dan Obama, lanjut Pete, juga tidak pernah merasa terganggu dengan kehadirannya sebagai fotografer di setiap kegiatannya, baik di hadapan publik, maupun saat sedang berada di ruangan kerja. “Sehingga foto-fotonya alamiah, tidak dibuat-buat,” jelas kontributor Majalah National Geographic ini lagi.
Sebagai tukang jepret profesional, Pete memang jeli melihat sisi-sisi humanis Obama, bahkan sejak presiden Amerika yang baru ini “belum jadi apa-apa”. Tapi, lanjut pria yang sudah menemani Obama ke Kenya, Afrika Selatan dan Rusia ini, dari awal dia sudah bisa menduga kalau Obama suatu saat akan melejit.
Sisi-sisi humanis, jepretan belakang panggung dari sosok Obama bisa disaksikan dari tayangan-tayangan di website Pete ini. Khusus buat essay foto-foto Obama di web itu, dia memberi judul 'The Rise of Barack Obama'. Kebangkitan Barack Obama.
Tayangan foto-foto ini dia awali dengan foto Obama yang tampak setengah berlari menaiki tangga gedung Capitol Hill. Seolah foto ini menggambarkan bagaimana Obama menuju puncak kekuasaan. Sementara foto kedua, foto Obama bersama anaknya Malia. Foto ini menggambarkan sosok Obama yang tidak pernah melupakan keluarganya, bahkan di tengah kesibukannya sebagai politisi.
Di setiap kesempatan hajatan politik yang dia hadiri, Obama sering membawa serta istri dan kedua putrinya. Sejak saat menjadi senator hingga saat sibuk berkampanye untuk merebut kursi kepresidenan lalu.
Ketika saya berada Columbus menyaksikan kampanye Obama disana, yang pertama kali tampil malah Michelle, istri Obama. Baru setelah 15 menit memberi sambutan, Obama keluar bersama kedua putrinya, Malia dan Sasha. Malah dipasang pula foto bagaimana Michelle dan kedua putrinya duduk di belakang panggung sambil berbisik, sementara Obama di depan terlihat sedang berpidato dalam rangkaian kampanyenya beberapa waktu lalu.
Yang paling menarik perhatian adalah foto saat Obama dan John McCain --bekas pesaingnya sebagai calon presiden-- saat mereka masih sama-sama menjadi senator. Terlihat Obama sedang berbisik kepada McCain. Kita tahu, saat kampanye, bagaimana kemudian sengitnya pertarungan kedua tokoh ini. Saling serang. Tapi kini McCain harus mengakui kemenangan telak Obama. Malah harus disambut tangisan oleh para pendukung McCain ketika veteran perang Vietnam ini mengaku kalah.
Soal foto-fotonya ini, Pete mengaku sudah menghadiahkannya kepada Obama. “Saya sudah bertemu dia (Obama -red) baru-baru ini. Menghadiahkannya esay foto ini. Dan dia memberi tandatangan buku saya juga,” aku Pete senang. (Bersambung)

Cuaca Kalah Sama Obama (Obama Beats Weather)

Fri, Nov, 7, 2008



Laporan Rakyat Merdeka Dari Athens, Ohio, AS (12)
Rakyat Merdeka Report from Athens, Ohio, US (12)

Muhammad Rusmadi


Cuaca Kalah Sama Obama
(Obama Beats Weather)


Mengawali pagi hari Rabu (5/11) lalu, buat saya rasanya ada yang berbeda disini, di kota kecil Athens, Ohio. Memang, pagi hari rasanya masih terasa dingin menusuk. Karena saat ini memang musim gugur. Tapi beberapa hari terakhir, ketika beranjak siang, cuacanya mulai menghangat. Sehingga meski kemana-mana saya selalu membawa jaket, sering tidak terpakai. Meski saya tetap butuh memakai baju berlapis dua.
Tapi umumnya orang-orang “sepakat”, beberapa hari ini suasananya indah. “It's a nice day, isn't it?” “Ya, it is”. Ya. Harinya indah. Ngomongin cuaca memang jadi basa-basi pembuka saya saat bertemu orang. Tapi mereka akan langsung lebih nyambung lagi bila diajak ngobrol soal Obama yang menang telak itu.
Di sebuah koran lokal garapan mahasiswa Ohio University (OU), The Post, ditulis sebuah headline besar 'Perubahan Sudah Datang di Amerika'. Change Has Come to America. Malah ditulis pula hasil perolehan Electoral College Obama yang luar biasa itu, Obama 349. McCain 148. Padahal untuk bisa menang, calon presiden (capres) hanya cukup mengantongi 270 suara. Tapi Obama jauh melampaui itu. Koran gratis ini diletakkan di sejumlah tempat, di pintu masuk toko-toko kecil, bar, hotel dan kampus.
Dua koran lainnya disini juga memuat headline yang sama. 'President Obama', tulis The Athens Messenger. Atau, 'America Makes Histroy. Obama Wins'. 'Amerika Bikin Sejarah. Obama Menang'. Di TV-TV juga semua liputan fokus pada kemenangan Obama ini. Meski di jaringan televisi Fox, sambutan kemenangan ini bernada sinis. Karena jaringan ini dari awal memang mendukung capres Republik, John McCain.
Salah satu bentuk “sambutan kemenangan ini misalnya dengan kembali menyoroti apakah Obama akan benar-benar mampu mengatasi berbagai masalah yang kini menghadang Amrik. Terutama, selalu soal-soal konflik Timur Tengah dan ancaman terorisme. Karena Obama dianggap masih terlalu hijau dan, tidak seperti McCain, sarat pengalaman di dunia militer.
Kubu Republik seakan tidak mau peduli, bahwa ini penting buat Amerika sebagai sebuah bangsa. Karena buat pertama kalinya sejak bangsa ini berdiri memiliki pemimpin dari kalangan keturunan Afrika-Amerika. Bahwa ini penting bagi bangsa lainnya di dunia untuk dijadikan pelajaran, Amerika memang punya yang namanya demokrasi.
Ketidakgembiraan yang sangat bisa dirasakan adalah ketika saya menemui Peter Couladis, Ketua Partai Republik di kota Athens sini. Rabu (5/11) pagi kemarin, saya memang janjian ketemuan dengan dia untuk ngobrol-ngobrol. Sengaja, waktunya diatur sehari setelah hari 'H' pencoblosan. Kalau Partai Republik menang, reaksinya pasti akan luar biasa, karena orang Republik ini pasti akan “berapi-api” karena bisa menang, sementara prediksi di hampir semua media, baik koran, televisi, media online menunjukkan hanya Obamalah yang bakal menang. Tapi kalau kalah, reaksinya sebenarnya saya juga sudah bisa tebak.
“Dia (Obama – red) itu kan cuma jago pidato. Tapi tidak mementingkan substansi,” cetus Peter, ditemui di gedung Scripps, Athens. Tapi Obama menurutnya beruntung, karena gara-gara kelihaiannya berorasi inilah yang membuatnya menarik perhatian banyak. Terutama anak-anak muda Amerika.
Misalnya soal istilah 'perubahan', lanjut Peter. Oya, ini mengingatkan saya pada Partai Demokrat-nya Presiden SBY. Apa yang dulu terjadi pada SBY, benar-benar mirip dengan Obama saat ini. Dari yang tidak diduga-duga naik, tapi lalu melejit luar biasa hingga memimpin di puncak. Kemiripan nama, sama-sama Partai Demokrat. Kesamaan simbol warna biru yang dipakai. Dan, jargon 'change' yang dibawa Obama, serta 'Berubah' yang dibawa SBY saat kampanye dulu. 'Change, We Can Believe in', atau 'Yes, We Can' adalah salah satu slogan Obama. Dan, 'Bersama Kita Bisa', adalah slogan kampanye SBY dulu. Bedanya yang pasti adalah, Obama orang sipil dan bertubuh kurus. Sementara SBY berlatar belakang militer –meski sudah pensiun-- dan berbadan gendut.
Nah, soal 'berubah' ini, menurut Peter adalah jargon yang kabur. Nggak jelas. Perubahan kemana? Dan Obama menurutya –masih dengan nada yang sulit menerima-- tidak pernah detil menjelaskannya.
Apalagi soal konflik Timur Tengah. Kasus Iran misalnya, “Ngapain juga kalau jelas-jelas negara ini sudah punya nuklir, tapi masih mau diajak bicara lagi?”, ketus Peter. Barat selama ini sudah meyakini secara bulat, Iran memang punya senjata nuklir dan bisa menjadi ancaman serius buat Israel, yang selama ini dianggap penting buat Barat karena Israel dianggap sebagai sebuah negara demokratis. “Saya yakin, karena bakal merasa tidak didukung Obama, Israel akan segera membom Iran,” tegasnya lagi.
Serangan kubu Republik memang bisa dirasakan, bahkan hingga hari-hari pencoblosan, Selasa (4/11) lalu. Di jaringan televisi CNN misalnya, hingga hari 'H' pencoblosan ini masih terus ditayangkan berulang-ulang iklan yang menyatakan, Obama sebagai sosok yang terlalu radikal dan terlalu berisiko untuk dipilih. 'Obama, too Risky, too radical'. Demikian antara lain bunyi iklan itu, dengan juga menayangkan bagaimana “hubungan baik” antara Obama dengan Pendeta Jeremiah Wright –yang berkulit hitam-- selama 20 tahun, yang dari khotbah-khotbahnya dianggap anti Amerika dan anti kulit putih.
Terlepas dari itu, bangsa Amerika sudah bersuara. Tak peduli apapun warna kulitnya, mayoritas warga Amerika sudah memilih. Presiden Amerika yang baru adalah Barack Hossein Obama. (Bersambung)

Ditaklukkan, Warga Ohio Berjingkrak (Ohio is Vanquished, People to Dance)

Thu, Nov, 6, 2008

Laporan Rakyat Merdeka Dari Athens, Ohio, AS (11)
Rakyat Merdeka Report from Athens, Ohio, US (11)

Muhammad Rusmadi

Ditaklukkan, Warga Ohio Berjingkrak
(Ohio is Vanquished, People to Dance)

Wajah Stan Griffith terus tersenyum gembira. Dia sibuk menelpon, memberitahukan rekan-rekannya, Ohio sudah ditaklukkan. Saat itu baru jam 21.30. Tapi layar penghitungan suara sudah menunjukkan, Demokrat sudah mengantongi 200 suara. Tapi kubu Republik baru mencapai 85 suara. “Kita taklukkan Ohio, Ohio!,” ungkapnya sambil terus mengumbar senyum.
Stan adalah peninjau Partai Demokrat dari Lexington, negara bagian Massachusetts. Malam itu (Selasa, 4/11) dia sengaja datang ke Athens, Ohio, berkumpul bersama di Markas Pemenangan Obama di State Court Street itu. Memang, Athens dianggap sudah tidak masalah buat para pendukung Obama. Tapi yang bikin para pendukung “partai biru” ini deg-degan, karena wilayah Athens sebenarnya dikepung oleh para pendukung Partai Republik. Tapi dengan ditaklukkannya negara bagian Ohio secara keseluruhan, mereka yakin kursi presiden Amrik bakal mudah direbut.
Tak heran, begitu angka suara untuk Demokrat melejit, emosi kegembiraan para pendukung Obama ini pun meledak. Mereka tak henti-hentinya tertawa, berjingkrak, berpelukan dan saling menghubungi rekan-rekan mereka lainnya. Via telepon, via email, atau blog.
Sebuah layar TV lebar via proyektor di tayangkan di sudut utama markas Obama ini. Di samping kanan layar tersebut terdapat tulisan besar 'Tadinya Kita Disini'. Di bawah tulisan itu ditempel foto dokumentasi berbagai kegiatan para pendukung Obama ini. Dan di sebelah kanannya ditempel juga tulisan besar 'Kita Akan Kesini'. Di bawahnya terdapat gambar gedung putih berukuran besar. “Kita akan kesini (Gedung Putih, kantor presiden Amrik -red),” ungkap mereka sambio menunjuk gambar gedung putih. Tempelan ini sudah mereka jauh-jauh hari. “Sekarang, kita sudah punya Presiden Obama,” ungkap Stan lagi, yang disambut tawa para aktivis Demokrat lainnya.
Para aktivis Demokrat ini nyaris semuanya anak muda. Umumnya juga mahasiswa. Mereka inilah yang sering saya lihat tiap hari sibuk berkampanye di pojok-pojok kampus mengingatkan rekan-rekan mereka untuk tidak lupa mencoblos. Tentu, dengan menggunakan lambang Demokrat dan foto-foto Obama.
Para pendukung Partai Demokrat ini juga berkumpul di sebuah restoran kecil, sekitar 50-an meter dari markas mereka. Sambil menikmati makanan, disini mereka juga menyaksikan penghitungan suara lewat televisi.
Acara memantau penghitungan suara melalui layar lebar ini juga digelar di pusat kegiatan mahasiswa Ohio University di gedung Baker Center, sekitar 100-an meter dari markas Obama. Disini mahasiswa yang menonton lebih banyak lagi. Di depan, dipasang dua layar TV besar. Sebelum acara dimulai, terlihat para mahasiswa berbaris mengantri makan malam gratis yang disediakan panitia penyelenggara. Acara ini digelar oleh organisasi mahasiswa OU, UPC, semacam senat mahasiswa. Lengkap dengan door-prize berhadiahnya segala.
Sementara suasana di depan kantor Board of Elections (BE, semacam KPU disini), antrian petugas yang membawa kertas suara kian memanjang. Jalanan State Court pun dipenuhi mobil petugas ini. Mereka datang dari tempat-tempat pemungutan suara (TPS) di seputar kota Athens.
Sebelumnya, petang itu suasana di beberapa TPS umumnya sudah sepi. Salah satunya di TPS gedung olahraga East Elementry, di kawasan Wallace Street. Para pencoblos yang datang bisa dihitung dengan jari. “Umumnya warga banyak yang sudah melakukan pencoblosan dini (early voting -red),” jelas petugas di TPS sini.
Tepat pukul 11.00 malam, stasiun televisi CNN sudah menyebutkan proyeksinya. Obama terpilih sebagai presiden. Sontak para mahasiswa yang umumnya para pendukung Obama ini berteriak histeris meluapkan kegembiraan mereka. “Obamaaa....!,” teriak mereka. Mereka sambil berpelukan. Suara mereka menggema ke seluruh Gedung Baker Center berlantai empat ini. Ya, meski baru ramalan, tapi akurasi jajak pendapat CNN ini dianggap sudah sangat akurat.
Mereka malah tak berpikir menunggu kepastian hasilnya akhirnya lagi. Mereka yakin, Obama sudah jadi presiden. Acara nonton bareng penghitungan suara ini pun bubar dengan sendirinya. Tapi mereka tidak pulang. Ada yang kembali bergabung ke bar-bar kecil di sekitar kampus, nonton bareng lagi.
Tepat jam 12.00 malam, tayangan-tayangan televisi pun sudah memastikan, Obama, presiden Amerika yang baru. Dan, Obama pun tampil. Ditayangkan langsung dari markas Obama di Grant Park, Chicago, terlihat Obama keluar untuk memberikan pidato kemenangannya. Tapi di Athens, Ohio, banyak pula yang tidak tahan berdiam di dalam dan memilih meluapkan kemenangan mereka dengan berlari-lari keluar. Inilah yang dilakukan sekitar 300-an mahasiswa OU. Mereka menerobos hawa dingin kota Athens dengan berkonvoi berkeliling di jalan-jalan kota Athens. (Bersambung)

Pizza Gratis Dari Obama (Free Pizza from Obama)

Wed, Nov, 5, 2008

Laporan Rakyat Merdeka Dari Athens, Ohio, AS (10)
Rakyat Merdeka Report from Athens, Ohio, US (10)

Muhammad Rusmadi

Pizza Gratis Dari Obama
(Free Pizza from Obama)

“Ayo, kita buat sejarah!”, ungkap Frank, pria Amerika yang saya temui saat sarapan di rumah makan Casa Nueva, di kota Athens, Ohio, pagi ini. Betul. Pagi ini, 4 November waktu Amerika (petang hari waktu Jakarta), warga Amerika akan mengukir sejarahnya. Menetukan siapa yang akan menjadi pemimpin mereka untuk empat tahun mendatang.
Tapi di tengah kota Athens, suasana malah sepi. Termasuk di depan kantor Board of Elections, semacam KPU-nya disini malah kosong. Karena umumnya hari warga bisa mencoblos di tempat-tempat pencoblosan yang sudah disediakan di sekitar tempat mereka tinggal. Malah, juga banyak yang sudah mencoblos lebih awal (early voting).
Pada pemilihan presiden (pilpres) Amrik kali ini, warga benar-benar dipermudah. Boleh melakukan pencoblosan dini. Apalagi karena pada hari 'H' pencoblosan seperti hari ini adalah hari kerja, tidak diliburkan. Jadi banyak yang merasa tidak bisa mencolos pada hari 'H' akhirnya mencoblos lebih awal.
Salah satunya yang dilakukan Sharon Case, sekretaris di Scripps College of Communication, Ohio University (OU). Hari ini dia sudah tidak perlu mengantri. Juga Jonathan Nelson, mahasiswa OU asal Chicago. Dia memilih mengantri untuk mencoblos kemarin, di Board of Elections, Athens, kemarin. “Karena saya mahasiswa disini saya tidak perlu mencoblos di Chicago,” aku mahasiswa yang juga sukarelawan kampanye Obama ini.
Menariknya, untuk wilayah Ohio, pada pilpres kali ini pencoblosan tidak menggunakan mesin seperti pada pilpres 2004 lalu. Jadi hanya menggunakan kertas suara biasa, dan melingkari nama calon dan asal partai yang tercantum di kertas tersebut. “Kita hanya melingkari nama. Kayak ujian,” aku Amanda Athenia (19 tahun), warga Amerika keturunan Indonesia.
Selain nama capres, juga dicantumkan nama-nama calon-calon Demokrat yang akan menduduki posisi-posisi legislatif. Mahasiswi yang baru pertamakali mencoblos ini malah mengaku tidak kenal dengan nama-nama lokal. “Tapi saya memilih yang wakil Demokrat. Siapapun namanya, pokoknya orang Demokrat aja,” akunya lagi.
Pencoblosan yang tidak menggunakan mesin ini, jelas Bob Stewart, pengajar di Scripss College of Communication, karena pengalaman pada pilpres lalu, mesin tak sedikit yang rusak. Sementara banyak pemilih yang sudah memasukkan suara mereka di mesin tersebut tidak bisa melakukan pemilihan ulang. Saat itu juga ada dugaan, mesin pemungutan suara sengaja dikurangi oleh penguasa dario kalangan Republik di wilayah Athens karena diperkirakan akan dimenangkan oleh kaum Demokrat.
Bahkan hingga hari ini, relawan yang umumnya mahasiswa masih agresif mengajak mahasiswa mencoblos. Pagi ini, di depan kampus OU, juga masih ada meja khusus bagi mereka yang mau melakukan pencoblosan. Lengkap dengan sejumlah stiker Obama yang akan mereka berikan cuma-cuma bagi siapa saja. Plus minuman gratis. Setiap orang yang lewat akan selalu disapa. “Anda sudah nyoblos, nggak?”
Kemarin, di depan gedung Court State yang bersebelahan dengan Board of Election, sukarelawan juga menggelar meja, membagi-bagikan stiker dan poster Obama. Malah, mereka juga membagikan pizza gratis. “Pizza gratis! Pizza gratis!,” teriak mereka menarik perhatian warga yang lewat. Ada yang mengambil poster. Ada juga yang cuma minta pizza.
Tapi tak sedikit juga warga yang sudah mencblos di Board of Election, lalu menikmati pizza gratis dari markas Obama ini di depan sebuah gereja, tak jauh dari situ. Sambil berjemur, karena kebetulan siang itu lumayan hangat suhunya, mereka ngobrol soal banyaknya warga yang kali ini bersemangat mencoblos, hingga soal harapan besar yang ditunggu dari sosok Obama.
Yang juga menarik, pada H-1 pencoblosan ini juga digelar demo kecil menuntut pemulangan tentara Amrik dari Irak. Uniknya, demo ini hanya digelar empat orang tua yang mereka sebenarnya sudah beken di Indonesia, Arthur Gish. “Tapi demo ini tidak ada hubungannya dengan pilpres ini,” aku Art, kepada Rakyat Merdeka. Karena aksi demo mereka, lanjutnya, memang rutin digelar tiap Senin.
Lepas dari itu, demo ini seakan juga secara tidak langsung “mengajak” warga untuk tidak mendukung McCain yang hanya akan melanjutkan pendudukan tentara Amerika di Irak.
Sementara susana di gedung Markas Pemenangan Obama tak jauh dari Board of Elections, susana terlihat sibuk. Tumpukan poster Obama masih terlihat di salah satu pojok kantor. Mereka yang bekerja disini umumnya relawan, Mulai dari hanya sekadar membagi-bagikan poster, menerima warga yang minta penjelasan tentang program-program lokal dari Partai Demokrat, hingga menghubungi warga via telepon untuk meyakinkan mereka tidak ketinggalan mencoblos.
So, siapa yang menang, Obama atau McCain? Kita tunggu....(Bersambung)

Wednesday, May 13, 2009

Mau Lihat Obama, Antri 1 Kilometer (To See Obama, Making Line 1 Kilometer)

Tue, Nov, 4, 2008

Laporan Rakyat Merdeka Dari Athens, Ohio, AS (9)
Rakyat Merdeka Report from Athens, Ohio, US (9)
Muhammad Rusmadi

Mau Lihat Obama, Antri 1 Kilometer
(To See Obama, Making Line 1 Kilometer)
Saat mengetahui Barack Obama akan datang ke negara bagian Ohio, terus terang saya senang sekali. Sejak berada di Boston dan bergerak ke Athens, kota kecil di negara bagian Ohio, inilah sebenarnya yang saya tunggu-tunggu. Obama ke Ohio. Sekali lagi, ini karena warga Amrik yang belum memutuskan akan memihak Obama atau McCain cukup tinggi disini. Istilahnya, wilayah swing state. Di Indonesia mungkin seperti massa mengambang (floating mass). Makanya jadi medan pertempuran kedua calon presiden (capres).
Sebenarnya capres bisa terjun ke enam wilayah yang berbeda dalam sehari. Apalagi hari-hari terakhir menjelang 4 November, hari pencoblosan ini. Jadwal yang saya pegang, Minggu (2/11) kemarin setidaknya di Ohio Obama misalnya akan berkeliling di kota-kota Columbus, Cleveland dan Cincinnati. Karena saya tinggal di Athens, saya memilih Columbus. Selain dekat, hanya sekitar 1,5 jam naik mobil, juga karena Columbus adalah ibukota negara bagian Ohio. Sebenarnya kota yang paling banyak penduduknya adalah justru Cleveland. Rekan saya di Jakarta malah juga menyarankan kesini, karena ada konser musik rocknya segala, bersama Bruce Springsteen. Namun cukup jauh, sekitar empat jam. Sementara transportasinya kemungkinan bakal rada susah untuk balik ke Athens karena malam hari. Soalnya Obama di Cleveland berkampanye sekitar jam 16.00.
Saya beruntung karena ada mahasiswa S3 asal Indonesia di Ohio University (OU) yang Minggu itu akan berangkat ke Columbus bawa mobil sendiri –yang bersangkutan menolak disebut identitasnya. Dan saya diajak gabung bersama keluarganya yang kebetulan juga ingin menyaksikan kampanye Obama dari dekat. Pak Yani –sebut saja demikian namanya—menjemput saya pukul 09.00 pagi, dengan harapan kami bisa tiba sekitar 30 menit sebelum gerbang lokasi kampanye dibuka pada pukul 11.00 pagi, di halaman Ohio Statehouse –semacam kantor gubernur, kawasan Genoa Park, Columbus.
Pak Yani sudah sekitar 15 tahun tinggal di Amerika. Dia mengaku mendapat beasiswa dari Amerika. Karena anaknya yang sakit dan harus dirawat untuk waktu lama di Columbus, Pak Yani akhirnya “terdampar” disini. Saking lamanya, malah anak-anak Pak Yani yang ada lima orang itu semuanya tak ada yang bisa berbahasa Indonesia.
Melaju di jalanan tol ke arah Columbus, banyak terlihat mobil-mobil berstiker Obama. “Mereka kayaknya pengen gabung acara kampanye tuh,” celetuk Pak Yani.
Kami tiba sesuai jadwal, sekitar 10.30-an pagi. Memasuki kota Columbus, suasana masih lengang. Saya senang, berarti bisa ngambil tempat dekat tempat orasi, pikir saya. Karena ada keperluan lain, Pak Yani tidak ikut, dan saya hanya bersama istri dan kedua anaknya yang saya turun mencari pintu masuk lokasi kampanye. Lokasinya sebenarnya di halaman, di tempat terbuka, tapi di batasi gerbang masuk. Gerbangnya berlapis tiga.
Mendekati gerbang, sudah terlihat antrian. Yah, saya juga sebenarnya sudah dengar pengantri sudah berbaris sekitar empat jam sejak sebelum dibukanya gerbang pada pukul 11.00. Tapi saya lihat antrian belum begitu panjang. Saya berusaha mencari ujung belakang antrian di balik gedung. Astagaaa…!!! Ternyata saya tidak bisa mencari ujung belakang antrian ini. Saya berputar-putar blok gedung, berbelok, kiri, kanan, menyeberang jalan dan lampu lintas, setengah berlari, tapi tidak ketemu-ketemu.
Saya pun lalu terpisah dengan keluarga Pak Yani. Anyway. Saya sempat berpikir bagaimana nantinya ketemu kembali dengan mereka di tengah ribuan massa –media setempat memprediksi massa sekitar 60.000 orang— karena saya lupa mencatat nomor kontak mereka. Tapi saya kemudian melupakan itu karena terus berusaha mencari ujung antrian dengan berputar-putar blok gedung-gedung disana.
Terus berputar-putar. Akhirnya seorang sukarelawan memberitahu ujungnya. Ampun!!! Mungkin antrian ini panjangnya satu kilometer. Mungkin lebih. Itu pun tidak satu-satu. Pengantri sekitar tiga orang berjejer ke samping.
Apa boleh buat, saya harus rela bergabung pengantri. Bukan saya saja yang terkaget-kaget melihat panjangnya antrian ini. Sejumlah keluarga Amrik yang datang pun, lengkap dengan atribut Obama, geleng-geleng kepala sendiri. Tapi mereka tampak juga senang, karena artinya pendukung Obama memang luarbiasa membludak. (Bersambung)

Laporan Wartawan Rakyat Merdeka, Muhammad Rusmadi Dari Amerika Serikat
Truk McCain Terobos Massa Obama
Melihat warga yang antri, macam-macam tingkah mereka menunjukkan dukungannya. Mulai menggunakan atribut-atribut Obama berupa pin, bros, topi, kaos, banner. Malah ada yang tampil sebagai ‘John Si Tukang Listrik’. Kubu McCain belakangan menggaet Joe Si Tukang Ledeng, simbol warga Amrik yang ‘gagal menjadi kaya’ karena harus “membagi” hartanya kepada warga Amrik lainnya lewat kebijakan kenaikan pajak yang akan diterapkan Obama. Percakapan spontannya dengan Obama terekam media TV. Joe mendadak terkenal setelah dalam kampanye Obama dia mengaku tidak suka dengan kebijakan itu, hingga akhirnya digaet McCain dalam beberapa kampanyenya untuk menyerang Obama.
Saat sedang asyik ngantri, tiba-tiba terdengar suara ramai orang meneriakkan Obama. Ternyata mereka meneriaki sebuah bus pendukung JohnMcCain yang berputar di jalan sekitar antrian. Menantang sekali, manas-manasin. “Berani sekali orang ini,” pikir saya. Apalagi, dia hanya sendirian.
Di samping lambung mobilnya tertulis besar McCain-Palin. Sementara di pintu masuk tertulis ‘Demokrat Mendukung McCain’. Setiap barisan antrian yang dilewati mobil ini terus menyoraki. Malah ada yang menimpuk, meski bukan dengan benda keras. Tapi umumnya pendukung Obama hanya menyoraki sambil tertawa-tawa. Ada yang membalikkan jempol tangan mereka.
Tiap kali disoraki, si pengendara hanya mengacung-acungkan sebuah buku tebal, sepertinya Kitab Bible, Injil. Memang, Partai Republik selama ini juga dianggap sebagai partai yang agamis (Kristen), anti aborsi, anti pernikahan sejenis, dan menolak nilai-nilai kebebasan lainnya yang selama ini diwakili kaum Demokrat. Malah Sarah Palin sering menggunakan istilah-istilah Injil dalam pidatonya, yang ditolak mentah-mentah kaum Demokrat. Karena kaum Demokrat memandang agama sebagai urusan pribadi.
Dan mobil tadi, terus berputar beberapa kali, tanpa takut diserang pendukung Obama. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau ini di Indonesia. Minimal mobil ini bakal bonyok dihajar massa yang emosi, atau orangnya babak-belur digebuki. Tapi si pengendara yang lumayan gendut dan berjas tanpa dasi itu toh aman disini. “Hebat,” gumam saya.
Setelah sekitar satu jam antri, saya sudah mendekati gerbang masuk Statehouse. Terlihat petugas menggeledah barang-barang bawaan peserta kampanye. Tas punggung dilarang masuk. Lokasi kampanye persis di halaman gedung Statehouse, di halaman terbuka. Di sekitar Statehouse, dikelilingi gedung-gedung pencakar langit.
Saya lalu berpikir, di balik pucuk-pucuk gedung itu pasti ada para sniper (penembak jitu) yang sudah siaga, baik yang bisa terlihat atau tidak, karena di dalam gedung. Betul. Persis di atap kanan Statehouse, tampak tiga sniper bersiaga. Mereka tampak terus memantau massa dengan teropong, baik yang double maupun jenis single model pelaut jaman dulu itu. Di samping mereka, terlihat jelas sebuah senapan spesial sniper berukuran panjang.
Mendekati gerbang, ternyata di dalam di lapisan pertama ini massa sudah benar-benar penuh sesak, sehingga gerbang pertama pun akhirnya dibuka. Saya ikut menerobos lari. Tapi, waduh! Mandeg. Penuh. Maju mundur, susah. Setidaknya 60.000-an massa hari itu pendukung Obama tumplek di halaman Statehouse hingga jalan-jalan raya.
Diisi pidato-pidato singkat oleh tokoh-tokoh lokal Partai Demokrat dan lagu-lagu selingan, pukul 13.15 Michele Obama, istri Barack Obama keluar. Riuh tepuk tangan, teriakan ‘Obama!’ menggema. Michele keluar sendirian. Setelah sekitar 10-an menit bicara, Obama pun keluar. Suasana makin gemuruh. Yel-yel ‘Yes, We Can!’ serentak teratur digemakan. Anak-anak muda, orang tua, kulit putih, hitam, menyatu kompak bersorak semangat.
Setiap kali serangan Obama terhadap McCain, saingannya terdengar, gemuruh tepuk tangan pun kembali menggema. “Saya tidak khawatir kalah seperti McCain. Saya justru khawatir memikirkan nasib rumah dan pekerjaan Anda semua,” tegas Obama, menyangkut ekonomi Amrik yang kini sedang babak belur.
Termasuk soal perang Irak yang tak berkesudahan yang dia juga kritik. “Kita tidak butuh pemimpin besar yang dikagumi. Tapi pemimpin yang pintar,” tegasnya lagi. Termasuk nasib para tentara Amrik yang kini banyak jadi sasaran empuk di Irak. Obama mengaku akan membuat mereka aman dan meningkat kesejahteraannya. (Bersambung)

Banyak Kutu Loncat Di Pilpres Amrik (There Are A Lot of Adventurers in US Election)

Mon, Nov, 3, 2008

Laporan Rakyat Merdeka Dari Athens, Ohio, AS (8)
Rakyat Merdeka Report from Athens, Ohio, US (8)

Muhammad Rusmadi


Banyak Kutu Loncat Di Pilpres Amrik
(There Are A Lot of Adventurers in US Election)


Wajahnya John –bukan nama sebenarnya-- rada gelagapan saat saya mengajukan beberapa pertanyaan seputar kegiatan para relawan di Markas Pemenangan McCain (McCain Headquarter Victory) di kawasan Tremont, Boston. Dia mengaku tidak bisa bicara sembarangan dalam memberikan informasi. Terutama apa-apa saja yang dilakukan para relawan kubu Republik dan pendukung capres Amrik, John McCain ini. Namun setelah diberitahu bahwa saya adalah wartawan Indonesia, barulah John mau bicara.
Salah satu tugasnya, aku John, adalah menghubungi warga Boston via telepon agar mereka nantinya menjatuhkan pilihannya kepada Republik. Menariknya, John sebenarnya adalah anggota Partai Demokrat. Namun pada pilpres kali ini dia malah mendukung John McCain.
Tentu, dia mengaku pindah mendukung McCain karena merasa lebih cocok dengan program-program yang ditawarkannya. Bukan karena dia seorang yang bekulit putih sehingga tidak memilih Obama yang Afro-Amerika. Namun sebenarnya, menurut Dr. J. Gregory Payne, Associate Professor Studi Komunikasi di Emerson College, Boston, banyak pula yang meninggalkan Obama hanya gara-gara dia bukan orang kulit putih
Inilah salah satu yang menarik pada pemilihan presiden (pilpres) Amrik kali ini. Tentang para pembelot alias kutu loncat di kalangan pemilih. Baik dari kalangan Demokrat yang akhirnya malah mendukung kubu Republik, maupun sebaliknya.
Berbicara soal pengkhianatan ini, bisa disebut kasus ketika Tom Bradley “dikhianati” oleh warga California ketika dia akan mencalonkan diri sebagai gubernur California pada 1982. Dia adalah calon Afro Amerika yang terus memimpin pada setiap jajak pendapat yang muncul, sehingga diunggulkan sebagai calon gubenur saat itu. Tapi begitu hasil pemilihan diumumkan, Bradley justru kalah. “Ini karena warga berbohong pada setiap jajak pendapat bahwa mereka mendukung Bradley saat itu. Tapi saat mencoblos, mereka malah memilih calon lain,” jelas Payne.
Inilah yang saat ini masih dikhawatirkan para pendukung Barack Obama dan Partai Demokrat. “Kami rada deg-degan,” kata David Israels, seorang kulit putih warga Shannon Avenue, Athens, Ohio, kepada Rakyat Merdeka. David adalah warga kulit putih yang pro Obama. Saat ditemui, bersama keluarga besar dan para tetangganya, David sedang merayakan Halloween. Namun dia malah memasang tiga bros Obama di topi dan bajunya. Plus satu banner kecil dukungan untuk Obama tertancap di halaman rumahnya.
Tak cuma itu, kemungkinan karena para pendukung Hillary Clinton yang kecewa setelah dikalahkan Obama menjadi capres Partai Demokrat pun juga ada. Meski demikian, hal ini buru-buru ditepis Carole Simpson. Carole adalah salah satu pendukung berat Hillary saat masih digadang-gadang menjadi satu-satunya capres perempuan Demokrat, meski akhirnya ditalukkan Obama.
Carole pernah menjadi wartawan ABC selama 24 tahun ini. Perempuan Afro-Amerika ini juga pernah meraih anugerah Emmy-Award sebanyak tiga kali. Kini, dia menjadi Leader in Residence di Emerson College, Boston. Secara berkala, dia juga menjadi analis politik pada acara talk show 'Larry King Live' di CNN. “Bekas para pendukung Hillary akan lebih memilih Obama, karena tidak suka dengan Sarah Palin, sebagai cawapres McCain,” tegas perempuan yang selalu ceria.
Di kalangan kaum Demokrat dan warga Amrik yang belum memutuskan siapa yang akan dipilih, Palin sering dijadikan bahan ejekan karena dianggap belum pantas menjadi wakil presiden Amrik. Terutama karena wawasannya yang masih dianggap dangkal. Ini beda jauh dengan kapabilitas Joe Biden, cawapres Obama. Apalagi bila melihat sisi kesiapan Joe menggantikan Obama dalam kondisi darurat misalnya –satu hal yang harus dimiliki seorang wapres, bila hal buruk sewaktu-waktu bisa menimpa Obama. Karena sisi keselamatan Obama saat ini juga menjadi perhatian serius.
Tapi yang juga menarik, kawasan-kawasan yang dulunya dikenal sebagai 'wilayah merah' (basis Republik), kini juga tak sedikit berubah menjadi 'wilayah biru' (Demokrat).
Dan, sebagai salah satu upaya McCain yang kini terus berupaya merebut suara pemilih adalah dengan mengajak Joe Si Tukang Ledeng (Joe the Plumber) berkampanye ke beberapa tempat. Samuel Joseph Wurzelbacher, adalah tukang ledeng yang mendadak terkenal setelah dia berbicara singkat dengan Obama saat berkampanye di Ohio. Yakni menyangkut rencana kenaikan pajak bila Obama terpilih nanti, yang dianggap memberatkan pengusaha kecil seperti dirinya. Kini, McCain memanfaatkan Joe dalam beberapa tur kampanyenya. Joe menjadi bintang di kampanye McCain untuk merebut hati warga Amrik dari kalangan ekonomi kecil. (Bersambung)