Sun, Nov, 2, 2008
Laporan Rakyat Merdeka Dari Athens, Ohio, AS (7)
Rakyat Merdeka Report from Athens, Ohio, US (7)
Muhammad Rusmadi
Saya Ditawari Nyoblos Obama
(I’m Offered to Vote for Obama)
Menjelang hari-hari pemilihan presiden (pilpres) 4 November ini, pertarungan kedua calon presiden Amrik, Barack Obama dan John McCain makin sengit. Tak cuma itu, para sukarelawan pun kian gigih mengajak warga untuk nyoblos.
Ya, pada pilpres kali ini warga Amrik memang sangat antusias nyoblos. Termasuk dengan banyaknya banner kedua capres yang bisa dilihat dimana-mana. “Di pilpres sebelumnya, Anda tidak bisa melihat suasana seperti ini,” aku Elizabeth Dunn, muslimah Amerika yang saya temui di kawasan Roxbury, Boston, negara bagian Massachusetts.
Juga para sukarelawan yang bergerak turun ke jalanan. Mereka umumnya adalah anak-anak muda. Di pusat kota Boston, di sekitar taman kota Boston Common saya beberapa kali bertemu sukarelawan ini. Meski hawa dingin, mereka berdiri di pinggir jalan sambil menyapa para pejalan kaki yang lewat. Saya juga termasuk yang dihampiri untuk diminta nomor kontak. Maksudnya, mereka akan memastikan, pada 4 November nanti akan nyoblos. Namun saya kasih tahu, saya bukan warga Amerika, tapi wartawan Indonesia yang sedang meliput.
Mereka kaget. “O, berarti Anda nggak nyoblos dong ya,” kata mereka sembari minta maaf. Mereka adalah sukarelawan Obama, Demokrat. Ini terlihat jelas dari kaos biru dan lambang Partai Demokrat yang mereka kenakan. Obrolan singkat tentang Obama yang pernah tinggal di Indonesia pun terjadi. Karena tak ingin mengganggu mereka, saya segera pergi.
Juga saat akan mengunjungi Harvard University. Di tempat menunggu kereta bawah tanah (subway), di kawasan Park Street, juga ada empat sukarelawan yang menyapa setiap calon penumpang subway. Lagi-lagi, mereka ini adalah sukarelawan Demokrat. Namun mereka – menolak memberi identitas karena merupakan peraturan sukarelawan-- menyatakan tidak mengarahkan pemilih untuk memilih siapa nantinya, apakah Obama atau McCain. Namun lebih berupaya mememastika warga untuk nyoblos pada 4 November nanti.
Sukarelawan lainnya juga saya temui di salah satu pojok kampus Ohio University (OU) di kota Athens, negara bagian Ohio. Disini, umumnya sukarelawannya adalah para mahasiswi kulit hitam yang, bisa diduga kuat adalah para pendukung Obama. Meski demikian, menurut salah satu sukarelawan ini, Alyssa Green (21 tahun), mereka hanya ingin memastikan rekan-rekan mereka juga nyoblos. Tidak mengarahkan pilihan rekan-rekan mereka.
Untuk itu, mereka tidak mengenakan simbol-simbol partai tertentu. Ini beda dengan sukrelawan di Boston yang sebelumnya saya temui. Di meja yang mereka gunaka, juga tampak tulisan di karton, “I pledge to vote!!”, “Sumpah, saya akan nyoblos!!”. “Perhari, kami bisa mendapat tandatangan kesediaan mencoblos sedikitnya lima orang,” aku Alyssa.
Sementara di pojok kampus OU lainnya, juga tampak sukarelawan yang mengajak mahasiswa memilih capres yang hanya punya program yang berpihak pada penggunaan energi ramah lingkungan. Untuk itu, mereka membentangkan spanduk hijau di depan meja dan mengajak para mahasiswa lainnya menandatangani selembar kertas dan memberikan nomor atau alamat yang bisa dihubungi.
Tapi diakui Emily Grannis, mahasiswi OU yang juga wartawan suratkabar OU, The Post, para sukarelawan di kampus ini umumnya memang pro Obama. Dan mereka sangat agresif bergerak, sekaligus juga efektif. Terbukti, “ Pendukung Obama umumnya memang anak-anak muda,” tegas John Della Volve, Director of Polling di Institute of Politics, John F. Kennedy School of Government di Cambrigde.
Sementara itu, para capres, baik Obama maupun McCain makin gigih saling serang. Berbagai jurus akhir memojokkan saingan dikeluarkan. Salah satunya yang bisa dilihat pada setiap acara talk show seperti di TV Fox misalnya. TV ini selalu berusaha memojokkan Obama. Terakhir adalah tentang isu keterkaitan Obama dengan aktivis yang pro PLO, Organisasi Pembebasan Palestina, Rashid Khalidi. Dia adalah profesor di University of Chicago, Illinois.
Di Amerika, kedekatan hubungan dengan aktivis Palestina atau yang pro dengan mereka, bisa diartikan sebagai anti Israel atau anti Yahudi dan ini bisa dianggap sebagai “dosa politik”. Karena kaum Yahudi dan Israel selama ini dianggap sebagai sahabat baik bangsa Amerika karena juga dianggap punya peran besar dalam kehidupan bernegara di Amerika. Apalagi selama ini kaum Yahudi dianggap sebagai kaum tertindas dan dikejar-kejar dalam tragedi Holocaust (pembantain massal) oleh kaum rasis Nazi Jerman saat Perang Dunia II dulu.
Ini juga bisa diartikan, memiliki hubungan dengan para akivis Palestina, besar kemungkinan akan membahayakan bangsa Amerika secara umum, anti kemanusiaan, atau bahkan pro teroris, karena selama ini pejuang Palestina, khususnya kelompok HAMAS lebih memilih jalan kekerasan ketimbang jalan diplomasi. Bisa ditebak, isu ini bakal bisa menusuk Obama.
Saat berada di sebuah rumah makan fast food di New Hampshire, tayangan ini muncul di TV. Seorang perempunan berambut pirang setengah baya memperhatikan tayangan tersebut begitu serius.
Ketika diundang dadakan menjadi pembicara dalam diskusi semi formal di Southeast Asian Studies, Center for International Studies, Ohio Universty, hal ini berusaha sebisanya saya jelaskan. Bahwa selama ini tak sedikit bangsa Indonesia yang khawatir, bila McCain terpilih, justru akan menerapkan kebijakan Timur Tengahnya yang lebih cenderung pro perang. Karena sebagai capres Republik, McCain diduga kuat akan melanjutkan kebijakan Bush di Timur Tengah saat ini. Bukan jalan-jalan damai seperti yang diharapkan bisa terjadi bila Obama yang terpilih.
Juga soal pandangan warga Indonesia yang sering sulit memisahkan, karena gara-gara kebijakan internasional Bush (pemerintahan, negara) di Timur Tengah yang pro perang misalnya, banyak warga Indonesia yang mengira, ini adalah pandangan warga Amerika secara umum. Padahal sesungguhnya banyak juga warga Amerika yang benci kebijakannya ini, dan membenci Bush. (Bersambung)
Wednesday, May 13, 2009
Tahu Saya Dari Indonesia Warga Ohio Kaget (When They Know I’m from Indonesia Ohio People Are Surprised)
Sat, Nov, 1, 2008
Laporan Rakyat Merdeka Dari Athens, Ohio, AS (6)
Rakyat Merdeka Report from Athens, Ohio, US (6)
Muhammad Rusmadi
Tahu Saya Dari Indonesia
Warga Ohio Kaget
(When They Know I’m from Indonesia
Ohio People Are Surprised)
Ini adalah hari kedua saya berada di kota Athens, kota kecil (town) di negara bagian Ohio. Kenapa ke Ohio, karena wilayah ini termasuk salah satu kota yang disebut sebagai Swing State. Maksudnya, wilayah yang kekuatannya tidak terbaca apakah akan lebih pro kepada Barack Obama atau John McCain. Jadi merupakan daerah pertempuran (battleground). Makanya, kedua calon presiden (capres) Amrik ini kini sedang berjuang memperebutkan suara di wilayah ini.
Saat di Boston, saya sudah diberi tahu tentang gambaran kota ini. Dan benar. Saat memasuki kota, wilayah ini memang lebih didominasi kampus, Ohio University (OU). Dan, karena seorang wartawan, saya diberi tahu, sekolah jurnalistik disini adalah salah satu yang terbaik di Amerika Serikat. Bahkan mengalahkan Harvard University di Boston yang dikenal sebagai kampus prestisius itu untuk studi jurnalistik.
Melihat bangunan OU yang begitu mendominasi kota, saya mencoba membandingkannya dengan Jogja. Ya, mirip. Tapi memang lalu lintasnya tak separah Jogja. Suasananya disini lengang. Kemana-mana bisa hanya berjalan kaki, seperti juga di pusat kota Boston. Namun di Boston karena kotanya yang lebih besar (city), tersedia juga angkutan umum seperti taksi, bis dan kareta bawah tanah (subway). Sementara disini tidak ada.
Herannya, saat memasuki kota Athens saya tidak melihat sama sekali spanduk-spanduk atau banner kampanye kedua capres yang kini sedang bertarung. Belakangan saya tahu, karena sebenarnya wilayah Athens adalah 'kawasan biru', dikuasai pendukung Partai Demokrat alias pro Obama. Juga karena Athens nyaris menyatu dengan kampus OU dan umumnya warga disini adalah kaum liberal. Tapi agak keluar kota Athens, tidak sedikit juga yang pro Partai Republik.
Kamis (31/10) sore, saya punya waktu senggang berjalan-jalan ke pinggiran kota Athens. Menurut Mary T. Rogus, Associate Professor di Sripps College of Communication Ohio University, di kawasan East State Street saya akan bisa menyaksikan banyak banner kampanye. Saya berjalan kesana. Lumayan juga. Dari penginapan saya di kawasan Richland Avenue, butuh waktu sekitar 30 menit. Karena kondisi jalannya yang rada berbukit, plus hawa dingin musim gugur yang lumayan menusuk.
Kawasan East State Street adalah pinggiran pusat kota Athens. Memasuki kawasan ini, mulai terlihat banner-banner kecil dukungan terhadap capres yang ditancapkan di depan baik kantor maupun rumah warga. Dan benar juga, kawasan ini didominasi kaum Demokrat yang pro Obama. Saya hanya menemukan dua banner yang berisi dukungan kepada pasangan John McCain-Sarah Palin. Tidak seperti di Indonesia yang jor-joran dengan spanduk atau banner yang berukuran raksasa, disini ukurannya kecil-kecil.
Saya terus menyusuri East State, memasuki ke jalan-jalan yang berbukit di kawasan Lincoln St, lalu ke Mapplewood. Rumah-rumah disini umumnya dibuat dari kayu, papan. Satu ketika pas di Kanada –yang umumnya perumahannya mirip dengan disini, Eropa dan kawasan yang memiliki empat musim lainnya, saya sempat melihat sebuah rumah yang sedang dibangun, dindingnya dibikin tebal, berlapis. Di antaranya lapisan alumunium foil, juga semacam kapuk atau busa tebal. Mungkin untuk melindungi dari cuaca yang memang sering ekstrim disini.
Bila di kawasan East State sepi –umumnya orang tidak suka nongkrong di luar karena hawanya lumayan dingin, di kawasan Mapplewood susananya rada ramai. Mungkin ada sekitar 200-an warga dengan keluarga mereka terlihat ramai di jalanan di depan perumahan mereka. Ya, saat ini adalah momen perayaan Halloween. Warga pun keluar dengan kostum yang diusahakan unik dan terkesan seram.
Halloween atau Hallowe’en adalah tradisi perayaan malam tanggal 31 Oktober, dan terutama dirayakan di Amerika Serikat. Tradisi ini berasal dari Irlandia, dan dibawa oleh orang Irlandia yang pindah ke Amerika Utara. Halloween dirayakan anak-anak dengan memakai kostum seram, dan berkeliling dari pintu ke pintu rumah tetangga meminta permen atau cokelat sambil berkata "Trick or treat!" Ucapan tersebut adalah semacam "ancaman" yang berarti "Beri kami (permen) atau kami jahili."
Sekarang, anak-anak biasanya tidak lagi menjahili rumah orang yang tidak memberi apa-apa. Sebagian anak-anak masih menjahili rumah orang yang pelit dengan cara menghiasi pohon di depan rumah mereka dengan tisu toilet atau menulisi jendela dengan sabun. Halloween identik dengan setan, penyihir hantu goblin dan makhluk-makhluk menyeramkan dari kebudayaan Barat. Halloween disambut dengan menghias rumah dan pusat perbelanjaan dengan simbol-simbol Halloween.
Di kawasan Mapplewood, sejumlah keluarga dengan anak-anak mereka keluar menghampiri rumah-rumah tetangga. Sementara yang punya rumah umumnya duduk di depan pintu rumah mereka menunggu anak-anak yang datang meminta permen. Mereka umumnya ramah, menyapa dan melempar senyum kepada saya. Dan, lagi, di depan rumah warga sini tertancap banner-banner kecil dukungan untuk Obama.
Di Shannon Avenue, susananya lebih meriah lagi. Udara dingin tak mereka hiraukan. Perhatian saya tertuju pada pasangan suami istri David Israels (56), yang duduk di tangga rumah bersama keluarga besar mereka. Di topi dan bajunya tampak tiga bros Obama. Di depan rumahnya juga tertancap satu banner kecil warna hijau bertulis Obama-Biden (Joe Biden, cawapres Obama).
Saat saya kasih tahu saya dari Indonesia, mereka kaget. Karena mereka juga tahu Obama pernah tinggal di Indonesia. Namun, meski hingga kini Obama terus memimpin di setiap jajak pendapat, keluarga ini mengaku masih belum tenang. “Terus terang, kami masih rada gugup kalau-kalau Obama kalah,” aku David yang sudah pensiun dari profesinya sebagai sopir ini. (Bersambung)
Laporan Rakyat Merdeka Dari Athens, Ohio, AS (6)
Rakyat Merdeka Report from Athens, Ohio, US (6)
Muhammad Rusmadi
Tahu Saya Dari Indonesia
Warga Ohio Kaget
(When They Know I’m from Indonesia
Ohio People Are Surprised)
Ini adalah hari kedua saya berada di kota Athens, kota kecil (town) di negara bagian Ohio. Kenapa ke Ohio, karena wilayah ini termasuk salah satu kota yang disebut sebagai Swing State. Maksudnya, wilayah yang kekuatannya tidak terbaca apakah akan lebih pro kepada Barack Obama atau John McCain. Jadi merupakan daerah pertempuran (battleground). Makanya, kedua calon presiden (capres) Amrik ini kini sedang berjuang memperebutkan suara di wilayah ini.
Saat di Boston, saya sudah diberi tahu tentang gambaran kota ini. Dan benar. Saat memasuki kota, wilayah ini memang lebih didominasi kampus, Ohio University (OU). Dan, karena seorang wartawan, saya diberi tahu, sekolah jurnalistik disini adalah salah satu yang terbaik di Amerika Serikat. Bahkan mengalahkan Harvard University di Boston yang dikenal sebagai kampus prestisius itu untuk studi jurnalistik.
Melihat bangunan OU yang begitu mendominasi kota, saya mencoba membandingkannya dengan Jogja. Ya, mirip. Tapi memang lalu lintasnya tak separah Jogja. Suasananya disini lengang. Kemana-mana bisa hanya berjalan kaki, seperti juga di pusat kota Boston. Namun di Boston karena kotanya yang lebih besar (city), tersedia juga angkutan umum seperti taksi, bis dan kareta bawah tanah (subway). Sementara disini tidak ada.
Herannya, saat memasuki kota Athens saya tidak melihat sama sekali spanduk-spanduk atau banner kampanye kedua capres yang kini sedang bertarung. Belakangan saya tahu, karena sebenarnya wilayah Athens adalah 'kawasan biru', dikuasai pendukung Partai Demokrat alias pro Obama. Juga karena Athens nyaris menyatu dengan kampus OU dan umumnya warga disini adalah kaum liberal. Tapi agak keluar kota Athens, tidak sedikit juga yang pro Partai Republik.
Kamis (31/10) sore, saya punya waktu senggang berjalan-jalan ke pinggiran kota Athens. Menurut Mary T. Rogus, Associate Professor di Sripps College of Communication Ohio University, di kawasan East State Street saya akan bisa menyaksikan banyak banner kampanye. Saya berjalan kesana. Lumayan juga. Dari penginapan saya di kawasan Richland Avenue, butuh waktu sekitar 30 menit. Karena kondisi jalannya yang rada berbukit, plus hawa dingin musim gugur yang lumayan menusuk.
Kawasan East State Street adalah pinggiran pusat kota Athens. Memasuki kawasan ini, mulai terlihat banner-banner kecil dukungan terhadap capres yang ditancapkan di depan baik kantor maupun rumah warga. Dan benar juga, kawasan ini didominasi kaum Demokrat yang pro Obama. Saya hanya menemukan dua banner yang berisi dukungan kepada pasangan John McCain-Sarah Palin. Tidak seperti di Indonesia yang jor-joran dengan spanduk atau banner yang berukuran raksasa, disini ukurannya kecil-kecil.
Saya terus menyusuri East State, memasuki ke jalan-jalan yang berbukit di kawasan Lincoln St, lalu ke Mapplewood. Rumah-rumah disini umumnya dibuat dari kayu, papan. Satu ketika pas di Kanada –yang umumnya perumahannya mirip dengan disini, Eropa dan kawasan yang memiliki empat musim lainnya, saya sempat melihat sebuah rumah yang sedang dibangun, dindingnya dibikin tebal, berlapis. Di antaranya lapisan alumunium foil, juga semacam kapuk atau busa tebal. Mungkin untuk melindungi dari cuaca yang memang sering ekstrim disini.
Bila di kawasan East State sepi –umumnya orang tidak suka nongkrong di luar karena hawanya lumayan dingin, di kawasan Mapplewood susananya rada ramai. Mungkin ada sekitar 200-an warga dengan keluarga mereka terlihat ramai di jalanan di depan perumahan mereka. Ya, saat ini adalah momen perayaan Halloween. Warga pun keluar dengan kostum yang diusahakan unik dan terkesan seram.
Halloween atau Hallowe’en adalah tradisi perayaan malam tanggal 31 Oktober, dan terutama dirayakan di Amerika Serikat. Tradisi ini berasal dari Irlandia, dan dibawa oleh orang Irlandia yang pindah ke Amerika Utara. Halloween dirayakan anak-anak dengan memakai kostum seram, dan berkeliling dari pintu ke pintu rumah tetangga meminta permen atau cokelat sambil berkata "Trick or treat!" Ucapan tersebut adalah semacam "ancaman" yang berarti "Beri kami (permen) atau kami jahili."
Sekarang, anak-anak biasanya tidak lagi menjahili rumah orang yang tidak memberi apa-apa. Sebagian anak-anak masih menjahili rumah orang yang pelit dengan cara menghiasi pohon di depan rumah mereka dengan tisu toilet atau menulisi jendela dengan sabun. Halloween identik dengan setan, penyihir hantu goblin dan makhluk-makhluk menyeramkan dari kebudayaan Barat. Halloween disambut dengan menghias rumah dan pusat perbelanjaan dengan simbol-simbol Halloween.
Di kawasan Mapplewood, sejumlah keluarga dengan anak-anak mereka keluar menghampiri rumah-rumah tetangga. Sementara yang punya rumah umumnya duduk di depan pintu rumah mereka menunggu anak-anak yang datang meminta permen. Mereka umumnya ramah, menyapa dan melempar senyum kepada saya. Dan, lagi, di depan rumah warga sini tertancap banner-banner kecil dukungan untuk Obama.
Di Shannon Avenue, susananya lebih meriah lagi. Udara dingin tak mereka hiraukan. Perhatian saya tertuju pada pasangan suami istri David Israels (56), yang duduk di tangga rumah bersama keluarga besar mereka. Di topi dan bajunya tampak tiga bros Obama. Di depan rumahnya juga tertancap satu banner kecil warna hijau bertulis Obama-Biden (Joe Biden, cawapres Obama).
Saat saya kasih tahu saya dari Indonesia, mereka kaget. Karena mereka juga tahu Obama pernah tinggal di Indonesia. Namun, meski hingga kini Obama terus memimpin di setiap jajak pendapat, keluarga ini mengaku masih belum tenang. “Terus terang, kami masih rada gugup kalau-kalau Obama kalah,” aku David yang sudah pensiun dari profesinya sebagai sopir ini. (Bersambung)
“Osama” Buat Ngelap Kotoran (“Osama” to Wipe Dirt)
Fri, Oct. 31, 2008
Laporan Rakyat Merdeka Dari Athens, Ohio, AS (5)
Rakyat Merdeka Report from Athens, Ohio, US (5)
Muhammad Rusmadi
“Osama” Buat Ngelap Kotoran
(“Osama” to Wipe Dirt)
Pukul 05.30 pagi waktu Boston atau sekitar pukul 04.30 sore waktu Jakarta, saya harus meninggalkan Boston menuju bandara Manchester, di negara bagian New Hampshire. Tujuan akhir saya sebenarnya adalah ke Athens, sebuah kota kecil di negara bagian Ohio. Untuk mencapai kota ini, saya harus ke New Hampshire, sekitar 1,5 jam perjalanan naik mobil, lalu terbang sekitar satu jam ke Baltimore, Washington. Di Baltimore, saya transit beberapa jam, lalu terbang lagi ke kota Columbus, Ohio, untuk kemudian kembali melanjutkan perjalanan naik mobil sekitar 1,5 jam.
Pagi-pagi sekali, saya dijemput Dr. J. Gregory Payne, dari Emmerson College untuk diantar ke bandara Manchester di New Hampshire. Boston masih gelap. Udara dingin menusuk. Namun memasuki New Hampshire, hari mulai terang. Daun-daun pepohonan yang kami lalui terlihat indah sekali, berwarna warni dari hijau, lalu berubah, kuning, merah, hingga cokelat. Seperti lukisan. Ini memang keindahan yang hanya bisa didapat di musim gugur seperti sekarang. Akhirnya, kami tiba di Manchester tepat waktu.
Bandara Manchester adalah bandara kecil dan bisa dibilang sepi. Tapi pemeriksaan memasuki bandara rupanya sudah standar di bandara manapun di Amerika. Seperti saat memasuki kota pertama di Amrik, semua barang bawaan ke pesawat harus masuk mesin scanning. Karena tidak menduga akan kembali mengalami pemeriksaan seperti ini, malam sebelum berangkat meninggalkan Boston saya tidak mempersiapkan sepenuhnya barang bawaan saya. Termasuk barang-barang cair yang dilarang keras masuk pesawat. Terutama yang berukuran di atas 100 mililiter.
Karena lupa, saya memasukkan gel rambut ukuran jumbo ke tas kecil yang saya bawa ke pesawat. Bisa ditebak. Masalah. Setelah kedapatan membawa gel besar ini, petugas pun memanggil saya, termasuk kembali menggeledah tas lapotop saya yang tadinya sebenarnya sudah lolos. Waduh. Ternyata si petugas dengan rada melolotot mengeluarkan segumpalan kabel dari kantong samping tas laptop saya.
Malam menjelang meninggalkan Boston, saya memang tak punya banyak waktu untuk packing dan merapihkan barang-barang saya, mana yang harus masuk bagasi, mana yang masuk tas jinjing ke pesawat. Karena sehari menjelang keberangkatan, acara orientasi kami para wartawan Indonesiayang akan meliput pilpres Amrik di Emerson College masih padat hingga malam hari. Sementara pagi-pagi sekali, sekitar pukul 03.00 dinihari waktu Boston saya biasanya harus bangun untuk mengejar deadline tulisan, karena menyesuaikan waktu dengan Jakarta yang beda sekitar 12 jam-an.
Akhirnya, masuklah gel rambut jumbo ini ke tas hand-carry. Ditambah gumpalan kabel laptop, charger, telepon dan sejumlah kabel lainnya di tas laptop. Semerawut sekali memang. Si petugas pertama tampak sedikit berusaha mengurai-urai gumpalan kabel saya itu dengan sedikit mengernyitkan kening.
Saya pun digeledah berlapis oleh dua petugas. Meski demikian, mereka tetap ramah, sambil meminta maaf karena harus menggeledah seluruh wilayah badan saya. “Anda nggak suka geli, kan?” tanya si petugas di pemeriksaan kedua pada saya. Mau apalagi? “It's OK. No problem,” saya bilang.
Pesawat lokal, Southwest Airlines tepat waktu. Dari proses boarding pass, hingga take off. Di penerbangan ini juga rada menarik buat saya. Kru pesawat, terlihat lebih santai dibanding pramugari di Indonesia, misalnya. Pertama, meski di tiket boarding pass tertera nomor tempat duduk, ternyata di dalam pesawat tidak berlaku, bebas memilih dimana saja kita mau duduk. Tentu, yang antrian awal lah sesungguhnya yang bebas, karena yang belakangan berarti hanya mendapatkan sisanya. Tapi penyandang cacat dan mereka yang membawa anak keci didahulukan masuk pesawat.
Pramugari, pakaiannya santai. Juga yang prianya malah hanya bercelana lutut. Di Indonesia, umumnya pramugari kita ber-make up (baca; rada bersolek), lengkap dengan lenggang lenggoknya segala. Malah ada maskapai regional Indonesia yang mendandani pramugarinya rada seksi.
Selain itu, meski penerbangan jarak pendek, di Southwest penumpang akan tetap mendapat minuman. Tapi ini hanya buat mereka yang memesan. Kecuali snack, berupa kacang yang dibagikan kepada semua penumpang. Jadi tidak semuanya diberikan, meski tidak memesan. Untuk itu, si pramugari saat sudah terbang menghampiri penumpang satu demi satu menawarkan minuman. Saat di penerbangan pertama sebelum transit di Baltimore, saya menolak tawaran. Selain merasa tidak haus, sebenarnya juga karena saya kira penumpang harus membayar. Sementara untuk bertanya apakah ini minuman gratis, rada malu juga.
Belakangan di penerbangan kedua dari Baltimore ke Columbus, saya baru tahu dari orang yang duduk dekat saya, bahwa minuman tersebut adalah cuma-cuma. Well...he he he...
Saat transit sekitar empat jam di Baltimore inilah saya melihat Osama. Ya. Osama bin Laden. Musuh besar Amerika yang memicu invasi pasukan Abang Sam ke Afghanistan ini dengan antengnya aman nongkrong di pojok bandara internasional Baltimore, Washington. Bukannya takut, saya hanya berusaha menahan tawa karena geli. Karena Osama yang berwujud poster dengan sorban dan jenggotnya yang terkenal itu berada di tisu toilet. Osama di Amrik buat mengelap kotoran! Saya senyam-senyum menahan tawa. Di rak pojok, Osama “dikepung” oleh FBI, Pasukan Kusus Amrik, dan berbagai kekuatan militer dan kepolisian AS. Tentu, semuanya berwujud suvenir, gantungan kunci, topi, kaos serta berbagai suvenir khas Amrik lainnya. Termasuk berbagai suvenir serupa yang bergambar Obama dan John McCain. Toko suvenir 'America!' ini berada di salah satu pojok bandara internasional Baltimore, Amerika. (Bersambung)
Laporan Rakyat Merdeka Dari Athens, Ohio, AS (5)
Rakyat Merdeka Report from Athens, Ohio, US (5)
Muhammad Rusmadi
“Osama” Buat Ngelap Kotoran
(“Osama” to Wipe Dirt)
Pukul 05.30 pagi waktu Boston atau sekitar pukul 04.30 sore waktu Jakarta, saya harus meninggalkan Boston menuju bandara Manchester, di negara bagian New Hampshire. Tujuan akhir saya sebenarnya adalah ke Athens, sebuah kota kecil di negara bagian Ohio. Untuk mencapai kota ini, saya harus ke New Hampshire, sekitar 1,5 jam perjalanan naik mobil, lalu terbang sekitar satu jam ke Baltimore, Washington. Di Baltimore, saya transit beberapa jam, lalu terbang lagi ke kota Columbus, Ohio, untuk kemudian kembali melanjutkan perjalanan naik mobil sekitar 1,5 jam.
Pagi-pagi sekali, saya dijemput Dr. J. Gregory Payne, dari Emmerson College untuk diantar ke bandara Manchester di New Hampshire. Boston masih gelap. Udara dingin menusuk. Namun memasuki New Hampshire, hari mulai terang. Daun-daun pepohonan yang kami lalui terlihat indah sekali, berwarna warni dari hijau, lalu berubah, kuning, merah, hingga cokelat. Seperti lukisan. Ini memang keindahan yang hanya bisa didapat di musim gugur seperti sekarang. Akhirnya, kami tiba di Manchester tepat waktu.
Bandara Manchester adalah bandara kecil dan bisa dibilang sepi. Tapi pemeriksaan memasuki bandara rupanya sudah standar di bandara manapun di Amerika. Seperti saat memasuki kota pertama di Amrik, semua barang bawaan ke pesawat harus masuk mesin scanning. Karena tidak menduga akan kembali mengalami pemeriksaan seperti ini, malam sebelum berangkat meninggalkan Boston saya tidak mempersiapkan sepenuhnya barang bawaan saya. Termasuk barang-barang cair yang dilarang keras masuk pesawat. Terutama yang berukuran di atas 100 mililiter.
Karena lupa, saya memasukkan gel rambut ukuran jumbo ke tas kecil yang saya bawa ke pesawat. Bisa ditebak. Masalah. Setelah kedapatan membawa gel besar ini, petugas pun memanggil saya, termasuk kembali menggeledah tas lapotop saya yang tadinya sebenarnya sudah lolos. Waduh. Ternyata si petugas dengan rada melolotot mengeluarkan segumpalan kabel dari kantong samping tas laptop saya.
Malam menjelang meninggalkan Boston, saya memang tak punya banyak waktu untuk packing dan merapihkan barang-barang saya, mana yang harus masuk bagasi, mana yang masuk tas jinjing ke pesawat. Karena sehari menjelang keberangkatan, acara orientasi kami para wartawan Indonesiayang akan meliput pilpres Amrik di Emerson College masih padat hingga malam hari. Sementara pagi-pagi sekali, sekitar pukul 03.00 dinihari waktu Boston saya biasanya harus bangun untuk mengejar deadline tulisan, karena menyesuaikan waktu dengan Jakarta yang beda sekitar 12 jam-an.
Akhirnya, masuklah gel rambut jumbo ini ke tas hand-carry. Ditambah gumpalan kabel laptop, charger, telepon dan sejumlah kabel lainnya di tas laptop. Semerawut sekali memang. Si petugas pertama tampak sedikit berusaha mengurai-urai gumpalan kabel saya itu dengan sedikit mengernyitkan kening.
Saya pun digeledah berlapis oleh dua petugas. Meski demikian, mereka tetap ramah, sambil meminta maaf karena harus menggeledah seluruh wilayah badan saya. “Anda nggak suka geli, kan?” tanya si petugas di pemeriksaan kedua pada saya. Mau apalagi? “It's OK. No problem,” saya bilang.
Pesawat lokal, Southwest Airlines tepat waktu. Dari proses boarding pass, hingga take off. Di penerbangan ini juga rada menarik buat saya. Kru pesawat, terlihat lebih santai dibanding pramugari di Indonesia, misalnya. Pertama, meski di tiket boarding pass tertera nomor tempat duduk, ternyata di dalam pesawat tidak berlaku, bebas memilih dimana saja kita mau duduk. Tentu, yang antrian awal lah sesungguhnya yang bebas, karena yang belakangan berarti hanya mendapatkan sisanya. Tapi penyandang cacat dan mereka yang membawa anak keci didahulukan masuk pesawat.
Pramugari, pakaiannya santai. Juga yang prianya malah hanya bercelana lutut. Di Indonesia, umumnya pramugari kita ber-make up (baca; rada bersolek), lengkap dengan lenggang lenggoknya segala. Malah ada maskapai regional Indonesia yang mendandani pramugarinya rada seksi.
Selain itu, meski penerbangan jarak pendek, di Southwest penumpang akan tetap mendapat minuman. Tapi ini hanya buat mereka yang memesan. Kecuali snack, berupa kacang yang dibagikan kepada semua penumpang. Jadi tidak semuanya diberikan, meski tidak memesan. Untuk itu, si pramugari saat sudah terbang menghampiri penumpang satu demi satu menawarkan minuman. Saat di penerbangan pertama sebelum transit di Baltimore, saya menolak tawaran. Selain merasa tidak haus, sebenarnya juga karena saya kira penumpang harus membayar. Sementara untuk bertanya apakah ini minuman gratis, rada malu juga.
Belakangan di penerbangan kedua dari Baltimore ke Columbus, saya baru tahu dari orang yang duduk dekat saya, bahwa minuman tersebut adalah cuma-cuma. Well...he he he...
Saat transit sekitar empat jam di Baltimore inilah saya melihat Osama. Ya. Osama bin Laden. Musuh besar Amerika yang memicu invasi pasukan Abang Sam ke Afghanistan ini dengan antengnya aman nongkrong di pojok bandara internasional Baltimore, Washington. Bukannya takut, saya hanya berusaha menahan tawa karena geli. Karena Osama yang berwujud poster dengan sorban dan jenggotnya yang terkenal itu berada di tisu toilet. Osama di Amrik buat mengelap kotoran! Saya senyam-senyum menahan tawa. Di rak pojok, Osama “dikepung” oleh FBI, Pasukan Kusus Amrik, dan berbagai kekuatan militer dan kepolisian AS. Tentu, semuanya berwujud suvenir, gantungan kunci, topi, kaos serta berbagai suvenir khas Amrik lainnya. Termasuk berbagai suvenir serupa yang bergambar Obama dan John McCain. Toko suvenir 'America!' ini berada di salah satu pojok bandara internasional Baltimore, Amerika. (Bersambung)
Seruan Nyoblos Di Sekitar Masjid (A Call to Vote around Mosque)
Thu, Oct. 30, 2008
Laporan Rakyat Merdeka Dari Boston, AS (4)
Rakyat Merdeka Report from Boston, US (4)
Muhammad Rusmadi
Seruan Nyoblos Di Sekitar Masjid
(A Call to Vote around Mosque)
Selama berada di Boston untuk meliput suasana hajatan pemilihan presiden (pilpres) Amerika, saya berusaha sebisanya menyempat mengeksplorasi kota ini. Boston adalah sebuah kota terkenal dan sangat tua, kota terbesar dan sekaligus sebagai ibukota negara bagian Massachusetts. Kotanya tenang. Tidak ada macet, dan untuk kawasan pusat kota, kemana-mana bisa dilakukan hanya dengan berjalan kaki.
Kota ini didirikan pada 17 September 1630 oleh kaumj kolonial Inggris. Dan sebagai kota tua, disini banyak sekali tempat bersejarah. Di antaranya, gedung tempat dideklarasikannya Kemerdekaan Amerika, 14 Juli 1776, di kawasan Washington Street, Boston. Selain itu, disinilah adanya kampus yang sangat terkenal itu, Harvard University.
Sebagai Muslim, saya penasaran, apakah ada masjid di sekitar kota ini. Untuk urusan shalat, saya sejak dari Indonesia sudah menyiapkan jadwal shalat kota Boston dengan surfing di internet. Dapat. Sayangnya, di sekitar pusat kota tidak ketemu masjid. Dimana-mana umumnya museum, gereja, atau teater.
Satu ketika, bersama dua rekan wartawan lainnya, saya disarankan DR. J Gregory Payne dari Emersion College untuk melihat-lihat museum. Kami lalu naik kereta bawahtanah, subway. Sekitar 15 menit kemudian, kami tiba di lokasi museum. Namun kami akhirnya sepakat batal masuk museum dan ingin lebih menikmati suasana pinggiran kota Boston. Suasana kota saat ini sudah sangat dingin, karena meski belum memasuki musim salju, angin musim gugur sudah terasa menusuk tulang. Terlebih buat kita yang biasa tinggal kawasan tropis seperti Indonesia.
Sekitar 15 menit berjalan kaki, kami tak sengaja melihat bangunan masjid. Tadinya kami ragu. Namun setelah melihat tanda bulan sabit di pucuk kubahnya, kami akhirnya memasuki masjid tersebut. Tak ada papan nama di depannya yang menandakan bahwa ini adalah masjid. Juga kumandang azan lewat mikrofon karena akan “berisik” dan “mengganggu” ketenangan warga di sekitar masjid.
Saya teringat rekan saya yang pernah tinggal di Singapura yang menceritakan hal yang sama tentang adzan di masjid sana. Hanya menggunakan mikrofon dalam masjid. Begitulah masjid yang berada di tengah kota yang warga setempat umumnya non Muslim. Memiliki kubah bulat pada bagian atap.
Kami tiba sekitar pukul 18.00, kebetulan sama dengan di Indonesia, waktunya shalat maghrib. Karena udara yang dingin, suasana di luar sepi, tak ada orang. Saya pikir di dalam mungkin banyak orang. Tapi ternyata shalat maghrib sudah dimulai, dan saya buru-buru bergabung untuk shalat.
Di sekitar masjid ini, juga terdapat plang berisi seruan untuk tidak lupa mencoblos pada 4 November mendatang. Dan bisa ditebak, umumnya jamaah masjid ini adalah juga para pendukung Obama. “Obama lebih sebagai simbol bagi warga imigran Amerika,” jelas Bilal Kaleem, Direktur Eksekutif Masyarakat Muslim Boston (MAS). Sehari-hari, dialah yang menjadi pimpinan di masjid ini.
Yang jelas, untuk urusan pilpres Amrik kali ini, sejak dulu, Boston benar-benar di atas angin. Boston dan negara bagian Massachusetts secara umum adalah kandangannya kaum Demokrat. Jadi umumnya warga sini adalah pendukung Barack Obama.
Meski demikian, bukan berarti warga pro John McCain tidak ada. Malah di pusat kota, tak jauh dari Emerson College, terdapat Markas Kemenangan McCain. Tapi sudah bisa ditebak, suasananya sepi. Di dalam, hanya ada beberapa orang sukarelawan yang bekerja untuk kantor ini . Tugas mereka di antaranya menghubungi warga –umumnya dengan telepon-- dan meyakinkan mereka untuk nyoblos McCain pada Selasa, 4 November nanti. (Bersambung)
Laporan Rakyat Merdeka Dari Boston, AS (4)
Rakyat Merdeka Report from Boston, US (4)
Muhammad Rusmadi
Seruan Nyoblos Di Sekitar Masjid
(A Call to Vote around Mosque)
Selama berada di Boston untuk meliput suasana hajatan pemilihan presiden (pilpres) Amerika, saya berusaha sebisanya menyempat mengeksplorasi kota ini. Boston adalah sebuah kota terkenal dan sangat tua, kota terbesar dan sekaligus sebagai ibukota negara bagian Massachusetts. Kotanya tenang. Tidak ada macet, dan untuk kawasan pusat kota, kemana-mana bisa dilakukan hanya dengan berjalan kaki.
Kota ini didirikan pada 17 September 1630 oleh kaumj kolonial Inggris. Dan sebagai kota tua, disini banyak sekali tempat bersejarah. Di antaranya, gedung tempat dideklarasikannya Kemerdekaan Amerika, 14 Juli 1776, di kawasan Washington Street, Boston. Selain itu, disinilah adanya kampus yang sangat terkenal itu, Harvard University.
Sebagai Muslim, saya penasaran, apakah ada masjid di sekitar kota ini. Untuk urusan shalat, saya sejak dari Indonesia sudah menyiapkan jadwal shalat kota Boston dengan surfing di internet. Dapat. Sayangnya, di sekitar pusat kota tidak ketemu masjid. Dimana-mana umumnya museum, gereja, atau teater.
Satu ketika, bersama dua rekan wartawan lainnya, saya disarankan DR. J Gregory Payne dari Emersion College untuk melihat-lihat museum. Kami lalu naik kereta bawahtanah, subway. Sekitar 15 menit kemudian, kami tiba di lokasi museum. Namun kami akhirnya sepakat batal masuk museum dan ingin lebih menikmati suasana pinggiran kota Boston. Suasana kota saat ini sudah sangat dingin, karena meski belum memasuki musim salju, angin musim gugur sudah terasa menusuk tulang. Terlebih buat kita yang biasa tinggal kawasan tropis seperti Indonesia.
Sekitar 15 menit berjalan kaki, kami tak sengaja melihat bangunan masjid. Tadinya kami ragu. Namun setelah melihat tanda bulan sabit di pucuk kubahnya, kami akhirnya memasuki masjid tersebut. Tak ada papan nama di depannya yang menandakan bahwa ini adalah masjid. Juga kumandang azan lewat mikrofon karena akan “berisik” dan “mengganggu” ketenangan warga di sekitar masjid.
Saya teringat rekan saya yang pernah tinggal di Singapura yang menceritakan hal yang sama tentang adzan di masjid sana. Hanya menggunakan mikrofon dalam masjid. Begitulah masjid yang berada di tengah kota yang warga setempat umumnya non Muslim. Memiliki kubah bulat pada bagian atap.
Kami tiba sekitar pukul 18.00, kebetulan sama dengan di Indonesia, waktunya shalat maghrib. Karena udara yang dingin, suasana di luar sepi, tak ada orang. Saya pikir di dalam mungkin banyak orang. Tapi ternyata shalat maghrib sudah dimulai, dan saya buru-buru bergabung untuk shalat.
Di sekitar masjid ini, juga terdapat plang berisi seruan untuk tidak lupa mencoblos pada 4 November mendatang. Dan bisa ditebak, umumnya jamaah masjid ini adalah juga para pendukung Obama. “Obama lebih sebagai simbol bagi warga imigran Amerika,” jelas Bilal Kaleem, Direktur Eksekutif Masyarakat Muslim Boston (MAS). Sehari-hari, dialah yang menjadi pimpinan di masjid ini.
Yang jelas, untuk urusan pilpres Amrik kali ini, sejak dulu, Boston benar-benar di atas angin. Boston dan negara bagian Massachusetts secara umum adalah kandangannya kaum Demokrat. Jadi umumnya warga sini adalah pendukung Barack Obama.
Meski demikian, bukan berarti warga pro John McCain tidak ada. Malah di pusat kota, tak jauh dari Emerson College, terdapat Markas Kemenangan McCain. Tapi sudah bisa ditebak, suasananya sepi. Di dalam, hanya ada beberapa orang sukarelawan yang bekerja untuk kantor ini . Tugas mereka di antaranya menghubungi warga –umumnya dengan telepon-- dan meyakinkan mereka untuk nyoblos McCain pada Selasa, 4 November nanti. (Bersambung)
Andai Obama Seorang Muslim (If Obama is a Muslim)
Wedn, Oct. 29, 2008
Laporan Rakyat Merdeka Dari Boston, AS (3)
Rakyat Merdeka Report from Boston, US (3)
Muhammad Rusmadi
Andai Obama Seorang Muslim
(If Obama is A Moslem)
Hajatan pilpres Amerika yang akan digelar Selasa, 4 November nanti, rasanya seperti sebuah pertunjukan jor-joran buat masyarakat dunia internasional. Disinilah Amerika, negara dengan konsep demokrasinya yang paling tua dalam sejarah manusia modern akan diuji. Siap atau tidak.
Salah satu masalah yang sejak beberapa waktu lalu mengemuka adalah isu SARA. Dalam hal ini agama. Barakc Obama misalnya terlihat begitu ketakutan saat dia dianggap sebagai seorang Islam. Kita tahu, Hussein Obama, ayah Obama asal Kenya yang sudah almarhum itu adalah seorang Muslim. Dan, Barack Obama menggunakan nama tengahnya 'Hussein', sebuah nama yang dengan gampang dianggap sebagai nama seorang Islam, atau malah celakanya, dianggap punya hubungan dengan teroris!
“John McCain atau orang-orang Republikan akan dengan sengaja menyebut nama Barack Obama dengan lengkap dan menekankan nama tengahnya Barack 'Hussein' (dinyaringkan sebagai penekanan -red) Obama,” jelas Bilal Kaleem, Direktur Eksekutif Masyarakat Muslim Amerika di Boston.
Hal ini, lanjutnya, sebagai upaya memberi kesan, Obama boleh jadi punya “nawaitu yang tidak murni” bila nanti terpilih sebagai presiden Amerika. Mungkin dia bersimpati pada orang Islam. Dan, boleh jadi juga dia sedikit banyak akan bersimpati pada teroris-teroris itu.
Hal ini terus membuat saya tidak nyaman saat berlangsung orientasi untuk liputan menjelang hari-hari pilpres AS 4 November mendatang. Salah satunya karena nama nama depan saya, Muhammad. “Yah, mau bagaimana lagi. Suka atau tidak, di negeri ini yang mayoritas adalah kaum Kristiani,” gumam saya dalam hati.
Kita juga tahu, selama ini juga ada semacam aturan tak tertulis, presiden Amrik haruslah seorang Protestan. Tidak boleh Katolik. Lalu bagaimana lagi dengan Islam? Atau seorang capres yang misalnya “berbau” Islam? Jangankan itu, saya masih lanjut membatin, seorang Yahudi Amrik saja, belum tentu siap untuk dijadikan presiden di negeri mbah-nya demokrasi ini. Mungkin bangsa Amerika siap. Tapi, sisi strategi keamanan dalam negeri dari gangguan teroris internasional yang anti Yahudi, sangat boleh jadi akan sangat berisiko. Atau, prospek hubungan yang bisa tambah amburadul dengan negara semacam Iran, atau yang lainnya.
Tentang bahwa Amrik adalah negara Kristen, bandingannya kurang lebih seperti Indonesia, yang mayoritas, bahkan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Siapkah kita dipimpin seorang, katakanlah, Protestan atau Katolik, Budhha, Hindu Bali, misalnya. Mungkin akan pusing 14 keliling membayangkan kemungkinan seperti ini. Padahal kalau jujur, bukankah semua warga berhak dipilih dalam kalau kita memang menyebut bangsa yang menganut paham demokrasi?
Masih tentang semacam identitas Amrik sebagai sebuah bangsa Kristen ini, dalam orientasi pra liputan pilpres AS di Emerson College, Boston, kami 10 wartawan Indonesia juga mendiskusikan berbagai rekaman kegiatan dan kampanye warga Amrik. Salah satunya, bagaimana pandangan umum warga kaum tua dan konservatif Amrik ini tadi. Saya rada kaget saat melihat tayangan di Ohio –negara bagian dengan kekuatan berimbang antara Demokrat dan Republik. “Ini negara Kristen. Jangan diserahkan kepada orang Islam...” Demikian antara lain pandangan yang memang ada di tengah masyarakat Amrik saat ini.
Ini menunjukkan, sebagian warga Amrik yang kaum tua ini tadi memang masih picik soal Islam. Meski usai tragedi WTC dahulu itu, sesungguhnya juga tidak sedikit warga Amrik yang juga masuk Islam. Ini fakta lain yang menunjukkan juga ada gelombang masyarakat Amrik yang penasaran, belajar sendiri dan membaca lalu pindah agama ke Islam.
Sayangnya, ini tidak menjadi isu yang laku dijual oleh media-media Amrik saat ini. Terlebih dalam demam pilpres Amrik seperti saat sekarang, isu Islam, malah jadi harus dikesampingkan jauh-jauh.
Untungnya, menurut Direktur Polling Institute of Politics John F. Kennedy School of Government, Cambridge, John Della Volve, isu-isu SARA semacam ini meski ada, tapi tidak bisa membuat capres seperti Obama goyang. Tak cuma itu, karena gejala semacam ini menurutnya sudah berlangsung sejak 10 lalu namun terbukti tak pernah berhasil.
Yang menarik, lanjutnya, sebenarnya saat ini kalangan muda Amrik malah mulai kembali kepada agama. Mulai relijius dalam arti luas. Ada yang memeluk agama-agama besar dunia, atau bahkan menjadi spiritualis yang tak terbatas hanya pada memeluk agama-agama yang ada selama ini. (Bersambung)
Laporan Rakyat Merdeka Dari Boston, AS (3)
Rakyat Merdeka Report from Boston, US (3)
Muhammad Rusmadi
Andai Obama Seorang Muslim
(If Obama is A Moslem)
Hajatan pilpres Amerika yang akan digelar Selasa, 4 November nanti, rasanya seperti sebuah pertunjukan jor-joran buat masyarakat dunia internasional. Disinilah Amerika, negara dengan konsep demokrasinya yang paling tua dalam sejarah manusia modern akan diuji. Siap atau tidak.
Salah satu masalah yang sejak beberapa waktu lalu mengemuka adalah isu SARA. Dalam hal ini agama. Barakc Obama misalnya terlihat begitu ketakutan saat dia dianggap sebagai seorang Islam. Kita tahu, Hussein Obama, ayah Obama asal Kenya yang sudah almarhum itu adalah seorang Muslim. Dan, Barack Obama menggunakan nama tengahnya 'Hussein', sebuah nama yang dengan gampang dianggap sebagai nama seorang Islam, atau malah celakanya, dianggap punya hubungan dengan teroris!
“John McCain atau orang-orang Republikan akan dengan sengaja menyebut nama Barack Obama dengan lengkap dan menekankan nama tengahnya Barack 'Hussein' (dinyaringkan sebagai penekanan -red) Obama,” jelas Bilal Kaleem, Direktur Eksekutif Masyarakat Muslim Amerika di Boston.
Hal ini, lanjutnya, sebagai upaya memberi kesan, Obama boleh jadi punya “nawaitu yang tidak murni” bila nanti terpilih sebagai presiden Amerika. Mungkin dia bersimpati pada orang Islam. Dan, boleh jadi juga dia sedikit banyak akan bersimpati pada teroris-teroris itu.
Hal ini terus membuat saya tidak nyaman saat berlangsung orientasi untuk liputan menjelang hari-hari pilpres AS 4 November mendatang. Salah satunya karena nama nama depan saya, Muhammad. “Yah, mau bagaimana lagi. Suka atau tidak, di negeri ini yang mayoritas adalah kaum Kristiani,” gumam saya dalam hati.
Kita juga tahu, selama ini juga ada semacam aturan tak tertulis, presiden Amrik haruslah seorang Protestan. Tidak boleh Katolik. Lalu bagaimana lagi dengan Islam? Atau seorang capres yang misalnya “berbau” Islam? Jangankan itu, saya masih lanjut membatin, seorang Yahudi Amrik saja, belum tentu siap untuk dijadikan presiden di negeri mbah-nya demokrasi ini. Mungkin bangsa Amerika siap. Tapi, sisi strategi keamanan dalam negeri dari gangguan teroris internasional yang anti Yahudi, sangat boleh jadi akan sangat berisiko. Atau, prospek hubungan yang bisa tambah amburadul dengan negara semacam Iran, atau yang lainnya.
Tentang bahwa Amrik adalah negara Kristen, bandingannya kurang lebih seperti Indonesia, yang mayoritas, bahkan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Siapkah kita dipimpin seorang, katakanlah, Protestan atau Katolik, Budhha, Hindu Bali, misalnya. Mungkin akan pusing 14 keliling membayangkan kemungkinan seperti ini. Padahal kalau jujur, bukankah semua warga berhak dipilih dalam kalau kita memang menyebut bangsa yang menganut paham demokrasi?
Masih tentang semacam identitas Amrik sebagai sebuah bangsa Kristen ini, dalam orientasi pra liputan pilpres AS di Emerson College, Boston, kami 10 wartawan Indonesia juga mendiskusikan berbagai rekaman kegiatan dan kampanye warga Amrik. Salah satunya, bagaimana pandangan umum warga kaum tua dan konservatif Amrik ini tadi. Saya rada kaget saat melihat tayangan di Ohio –negara bagian dengan kekuatan berimbang antara Demokrat dan Republik. “Ini negara Kristen. Jangan diserahkan kepada orang Islam...” Demikian antara lain pandangan yang memang ada di tengah masyarakat Amrik saat ini.
Ini menunjukkan, sebagian warga Amrik yang kaum tua ini tadi memang masih picik soal Islam. Meski usai tragedi WTC dahulu itu, sesungguhnya juga tidak sedikit warga Amrik yang juga masuk Islam. Ini fakta lain yang menunjukkan juga ada gelombang masyarakat Amrik yang penasaran, belajar sendiri dan membaca lalu pindah agama ke Islam.
Sayangnya, ini tidak menjadi isu yang laku dijual oleh media-media Amrik saat ini. Terlebih dalam demam pilpres Amrik seperti saat sekarang, isu Islam, malah jadi harus dikesampingkan jauh-jauh.
Untungnya, menurut Direktur Polling Institute of Politics John F. Kennedy School of Government, Cambridge, John Della Volve, isu-isu SARA semacam ini meski ada, tapi tidak bisa membuat capres seperti Obama goyang. Tak cuma itu, karena gejala semacam ini menurutnya sudah berlangsung sejak 10 lalu namun terbukti tak pernah berhasil.
Yang menarik, lanjutnya, sebenarnya saat ini kalangan muda Amrik malah mulai kembali kepada agama. Mulai relijius dalam arti luas. Ada yang memeluk agama-agama besar dunia, atau bahkan menjadi spiritualis yang tak terbatas hanya pada memeluk agama-agama yang ada selama ini. (Bersambung)
Teriakan Obama Dari Boston Sampai Afrika (Obama’s Yell from Boston to Africa)
Tue, Oct. 28, 2008
Laporan Rakyat Merdeka Dari Boston, AS (2)
Rakyat Merdeka Report from Boston, US (2)
Muhammad Rusmadi
Teriakan Obama Dari Boston Sampai Afrika
(Obama’s Yell from Boston to Africa)
Pilpres Amerika kali ini memang menjadi perhatin luas dunia internasional, tak terkecuali Indonesia. Indonesia, karena salah satu capres AS ini, Barack Obama, memang pernah tinggal di Menteng, Jakarta saat Obama masih kecil. Sehingga seolah ada hubungan emosional antara Indonesia dengan Obama.
Saat transit di Hong Kong dalam perjalanan ke Boston, AS, di toko-toko buku bandara juga buku-buku tentang Obama dan pesaingnya, John McCain sudah berjejer menyambut mata karena lumayan mendominasi. Buku-buku dengan sampul wajah Obama dan McCain terpampang dimana-mana. Termasuk di berbagai majalah dan suratkabar.
Jennan Al-Hamdouni, seorang mahasiswi Emerson College, Boston juga menuturkan hal yang sama. Saat dia bepergian ke Afrika beberapa waktu lalu, akunya, simpati dukungan luar biasa terhadap Obama juga terlihat. "Mereka sering meneriakkan yel-yel Obama! Obama!," jelas mahasiswi keturunan Irak-Italia ini. Simpati itu jelas, lanjutnya, karena Obama memang keturunan Afrika (Kenya). Jadi punya hubungan emosional yang kuat seperti halnya Indonesia.
Terlepas dari itu, khususnya bagi warga Amerika keturunan atau imigran, memilih Obama menjadi semacam simbol. Dari kalangan imigran manapun, tak hanya warga keturunan Afrika. Demikian menurut Bilal Kaleem, Direktur Eksekutif Masyarakat Muslim Amerika di Boston.
Meski demikian, untuk kebijakan luarnegeri, pendukung Obama ini menilai tidak akan banyak berubah, termasuk bila Obama nantinya terpilih. "Yang jelas, Obama akan lebih terbuka berbicara kepada negara-negara tertentu yang saat ini belum ada komunikasi seperti Iran," jelasnya. Selama ini, kita tahu, memang tak ada hubungan diplomasi antara kedua negara.
Dan yang paling menarik, partisipasi warga Amerika kali mengikuti pilpres kali jauh lebih antusias ketimbang pilpres-pilpres AS sebelumnya. "Dulu, jarang sekali kita melihat spanduk-spanduk di tempat-tempat terbuka seperti pilpres kali ini," aku Elizabeth Dann, muslimah Amerika di Boston.
Dan dari kedua capres yang kini, Barack Obama dan John McCain, harus juga diakui, popularitas Obama terus bertengger di atas. Termasuk di kalangan anak muda Amrik. Ini karena salah satu jurus Obama adalah menggunakan teknologi internet untuk menjaring para pemilih muda. Salah satunya melalui 'Face Book'. Hal ini menurut Prof. Linda Gallant, di Emerson College, Boston. Hingga 25 Oktober lalu misalnya, pendukung pasangan Obama-Joe Biden sudah mencapai 2.260.720 orang. Sementara pasangan McCain-Sarah Palin, hanya mengantongi 598.271.
Selama ini, kesan dari kedua capres memang dianggap bertentangan 180 derajat. Obama mewakili kaum muda. Sedang McCain, mewakili kaum tua. Dan ternyata, kaum tua Amerika ini pun dianggap tidak terlalu familiar dengan yang namanya dunia internet ini. Meski ada, disain blog yang ditampilkan pun jauh lebih atraktif ketimbang blog-blog yang dimiliki John McCain. Disinilah pertempuran lagi-lagi tidak terlihat imbang antara keduanya. "Ini juga menunjukkan, mereka yang ada di lingkaran Obama jauh lebih kreatif ketimbang di lingkaran McCain," lanjut Linda. (Bersambung)
Laporan Rakyat Merdeka Dari Boston, AS (2)
Rakyat Merdeka Report from Boston, US (2)
Muhammad Rusmadi
Teriakan Obama Dari Boston Sampai Afrika
(Obama’s Yell from Boston to Africa)
Pilpres Amerika kali ini memang menjadi perhatin luas dunia internasional, tak terkecuali Indonesia. Indonesia, karena salah satu capres AS ini, Barack Obama, memang pernah tinggal di Menteng, Jakarta saat Obama masih kecil. Sehingga seolah ada hubungan emosional antara Indonesia dengan Obama.
Saat transit di Hong Kong dalam perjalanan ke Boston, AS, di toko-toko buku bandara juga buku-buku tentang Obama dan pesaingnya, John McCain sudah berjejer menyambut mata karena lumayan mendominasi. Buku-buku dengan sampul wajah Obama dan McCain terpampang dimana-mana. Termasuk di berbagai majalah dan suratkabar.
Jennan Al-Hamdouni, seorang mahasiswi Emerson College, Boston juga menuturkan hal yang sama. Saat dia bepergian ke Afrika beberapa waktu lalu, akunya, simpati dukungan luar biasa terhadap Obama juga terlihat. "Mereka sering meneriakkan yel-yel Obama! Obama!," jelas mahasiswi keturunan Irak-Italia ini. Simpati itu jelas, lanjutnya, karena Obama memang keturunan Afrika (Kenya). Jadi punya hubungan emosional yang kuat seperti halnya Indonesia.
Terlepas dari itu, khususnya bagi warga Amerika keturunan atau imigran, memilih Obama menjadi semacam simbol. Dari kalangan imigran manapun, tak hanya warga keturunan Afrika. Demikian menurut Bilal Kaleem, Direktur Eksekutif Masyarakat Muslim Amerika di Boston.
Meski demikian, untuk kebijakan luarnegeri, pendukung Obama ini menilai tidak akan banyak berubah, termasuk bila Obama nantinya terpilih. "Yang jelas, Obama akan lebih terbuka berbicara kepada negara-negara tertentu yang saat ini belum ada komunikasi seperti Iran," jelasnya. Selama ini, kita tahu, memang tak ada hubungan diplomasi antara kedua negara.
Dan yang paling menarik, partisipasi warga Amerika kali mengikuti pilpres kali jauh lebih antusias ketimbang pilpres-pilpres AS sebelumnya. "Dulu, jarang sekali kita melihat spanduk-spanduk di tempat-tempat terbuka seperti pilpres kali ini," aku Elizabeth Dann, muslimah Amerika di Boston.
Dan dari kedua capres yang kini, Barack Obama dan John McCain, harus juga diakui, popularitas Obama terus bertengger di atas. Termasuk di kalangan anak muda Amrik. Ini karena salah satu jurus Obama adalah menggunakan teknologi internet untuk menjaring para pemilih muda. Salah satunya melalui 'Face Book'. Hal ini menurut Prof. Linda Gallant, di Emerson College, Boston. Hingga 25 Oktober lalu misalnya, pendukung pasangan Obama-Joe Biden sudah mencapai 2.260.720 orang. Sementara pasangan McCain-Sarah Palin, hanya mengantongi 598.271.
Selama ini, kesan dari kedua capres memang dianggap bertentangan 180 derajat. Obama mewakili kaum muda. Sedang McCain, mewakili kaum tua. Dan ternyata, kaum tua Amerika ini pun dianggap tidak terlalu familiar dengan yang namanya dunia internet ini. Meski ada, disain blog yang ditampilkan pun jauh lebih atraktif ketimbang blog-blog yang dimiliki John McCain. Disinilah pertempuran lagi-lagi tidak terlihat imbang antara keduanya. "Ini juga menunjukkan, mereka yang ada di lingkaran Obama jauh lebih kreatif ketimbang di lingkaran McCain," lanjut Linda. (Bersambung)
Ribet Urusan Jenggot Dan Bumbu Dapur (Being Complicated Because of Beard and Spices)
Monday, Oct. 27, 2008
Laporan Rakyat Merdeka Dari Boston, AS (1)
Rakyat Merdeka Report from Boston, US (1)
Muhammad Rusmadi
Ribet Urusan Jenggot Dan Bumbu Dapur
(Being Complicated Because of Beard and Spices)
Berkesempatan meliput pemilihan presiden Amerika Serikat tahun ini merupakan salah satu harapan besar banyak wartawan. Malah sejak akhir 2006 lalu, Raymond Bonner, rekan saya sesama wartawan yang bekerja untuk koran Amerika, The New York Times sudah bilang sama saya, 2008 adalah saat -saat penting buat seorang wartawan untuk bisa berada di Amerika. Saat itu, terus terang, saya tidak berharap banyak untuk bisa melakukan liputan ke wilayah pojok bumi sebelah sana itu. Dan saya juga bukan pada posisi yang nyaman membikin situasi agar saya besar kemungkinan mendapat penugasan peliputan kali ini. Meski dalam hati, keinginan itu tentu tetap ada, mengingat pentingnya pemilu kali ini. Terlebih sebagai wartawan, saya juga merasa penting untuk bisa menjadi saksi sejarah bagaimana Amerika berubah.
Karena pada pemilu kali inilah Amerika akan menentukan sejarah dan masa depannya. Apakah akan dipimpin orang keturunan kulit hitam pertama sepanjang sejarah Amerika yang muda, cerdas, energetik, dan berpikiran terbuka, pecinta damai alias anti perang, yang diwakili oleh sosok Barack Obama itu. Atau, akan dipimpin presiden paling tua dalam sejarah negeri Abang Sam, penerus berbagai kebijakan Presiden Bush yang kontroversial dan memuakkan banyak orang seluruh dunia dengan kebijakan perangnya, John McCain, meski berkali-kali dia bantah bahwa McCain bukan Bush.
Sampai akhirnya, pada 3 Juli lalu, Asisten Atase Pers Kedubes Amerika Serikat (Kedubes AS) di Jakarta, Stafford A. Ward berkirim surat secara langsung kepada saya yang intinya, berisi undangan liputan pilpres AS ini, dengan sejumlah persyaratan. Salah satunya, membuat personal statement of interest. Well, singkatnya, alhamdulillah, bersama 9 rekan media lainnya, dengan bantuan Kedubes AS, kami pun berangkat. Dalam hal ini, Kedubes juga bekerjasama dengan sebuah sekolah komunikasi dan seni di Boston, Massachusetts, Emmerson College.
Seperti umumnya liputan luarnegeri yang disponsori lembaga tertentu, kami pun diberikan briefing oleh Kedubes AS, agar memudahkan proses keberangkatan dan, terutama saat memasuki Amerika Serikat. Meski 10 orang, ternyata kami berangkat dengan pesawat berbeda-beda, sendiri-sendiri. Namun karena tujuannya adalah Amerika, jadi lebih khusus. Begitulah setidaknya menurut saya. Maklum, Amerika harus extra hati-hati terhadap berbagai kemungkinan serangan dengan segala bentuknya. Jadi pemeriksaan ketat di pintu-pintu masuk ke Amerika juga sudah ditekankan kepada kami. Saya, memasuki Amerika dari Los Angeles, California. Agar tidak kerepotan atau kaget, pihak kedubes juga sudah mewanti-wanti akan bagaimana kemungkinan besarnya perlakuan pihak imigrasi Amerika terhadap setiap penumpang pesawat yang memasuki kota pertama Amerika. Yang jelas, kaum pria, akan sedikit repot dibanding perempuan karena harus diperiksa ekstra ketimbang perempuan.
Ini perjalanan pertama saya ke Amrik. Saat ke Jerman, saya tidak terlalu deg-degan tidak memotong jenggot saya, atau dengan nama depan saya, Muhammad. Beberapa rekan saya menyarankan, "Mending dihabisin aja tuh jenggot". Penasaran berat, saya cross-check ke Stafford sambil cengar-cengir. Eh, dia malah juga ngetawain. "Emang jenggot kamu gede banget apa?," begitu kira-kira dia menjawab penasaran saya. Well, nasib jenggot saya pun akhirnya selamat. Tak digundul habis, cuma dipendekin sedikit.
Ini mengingatkan saya pada cerita rekannya yang juga studi di Hawaii sana, yang mengaku rela menggundul habis bulu di dagunya demi "keamanan" memperoleh visa Amrik. Saya cuma ketawa-ketawa kalau ingat ini. Padahal, namanya tidak ada mirip-mirip dengan nama-nama Arab, Muhammad kayak saya, atau Ahmad. Karena belakangan saat di Boston, rekan senior saya yang menjadi asisten profesor di California juga curhat soal namanya, Muhammad Ali. Deg-degan ini juga karena ternyata salah satu rekan kami dari sebuah stasiun radio Jakarta akhirnya malah tidak mendapatkan visa menjelang keberangkat ke Amrik. Alasannya nggak jelas. Apakah ditunda atau ditolak. Saya, termasuk yang mendapat visa dua hari menjelang keberangkatan. Alhamdulillah, dapat juga.
Saat tahu akan ke Boston, saya pun mengabari rekan saya yang sedang studi di Harvard University, Sukidi Mulyadi. Tentu, kami sama-sama gembira karena lama tak bertemu. Dia berjanji akan membantu saya selama berada di Boston. Alhamdulillah, pikir saya. Tapi, yang membuat saya rada deg-degan, teman lama sya ini minta titipan bumbu masak dan kue lapis legit. Mungkin, lama tidak pulang ke Indonesia, sehingga kangen berat. Waduh, pikir saya lagi. Bukannya produk hewan, juga bumbu-bumbuan termasuk yang ditekankan tidak dibawa oleh pihak Kedubes AS? Tapi saya akhirnya tetap akan membawa titipan tersebut dan memasukkannya di bagasi. Setelah penerbanan panjang dan akan mendarat di bandara pertama di AS, Los Angeles (LA), kami dibagikan form untuk diisi. Salah satunya dari Imigrasi dan Bea Cukai AS. Dan, benar, ternyata salah satu pertanyaan yang harus dijawab adalah apakah saya membawa produk hewan. Saya tadinya berpikir tidak akan mengisi karena menduga bagasi saya akan tiba di Boston langsung, bandara kedua di AS, tujuan akhir saya. Tapi bagaimana kalau bagasi ternyata harus diambil dulu di LA? Well, saya pun akhirnya memutuskan mengisi jawaban 'ya'.
Memasuki bandara Tom Bradley, LA, ternyata tak seribet yang saya bayangkan. Saat itu memang sekitar pukul 14.00. Jadi nggak terlalu puyeng. Dan antrian tidak parah saat berhadapan dengan meja petugas Imigrasi. Sejak dari pesawat, saya sudah siap-siap. Di bandara, saya diminta mengisi form biodata lagi. Tapi di kelompok saya umumnya hanya orang-orang Asia. Setelah mengisi form, scanning jari tangan dan difoto, saya pun dipersilakan memasuki antrian ke tempat pengambilan bagasi. Ternyata, disnilah saya diinterogasi spontan oleh petugas. "Produk hewan apa yang Anda bawa?," tanyanya. Saya kaget, karena tidak menyangka bukannya ditanyai saat pengisian form tadi, tapi malah menjelang masuk antrian. Celakanya, saya lupa setelah bilang 'kue' dan 'bumbu dapur', mestinya saya bilang 'spices', malah 'kitchen stuff'. Barang-barang dapur. Si petugas ini pun malah jadi penasaran. "Apa? Barang dapur bagaimana maksud Anda ?," tanyanya lagi. "Waduh, bisa panjang nih urusan," saya pikir. Saya pun menawarkan untuk membuka tas bagasi saya yang kebetulan cuma satu tas ransel punggung besar.
Mungkin karena antrian di belakang saya lumayan banyak, dia pun akhirnya menyilakan saya terus. "Ah, slame...t, slame....t," pikir saya. Nasib bumbu ayam dana sapi titipan teman saya itu akhirnya aman. Apalagi karena bumbu itu tertutup rapat sejak saat dibeli dan kering. Sebenarnya teman saya memang sudah bilang bahwa produk yang saya bawa akan 'aman'. Termasuk saat memasuki pintu 'scanning' berikutnya, bagasi saya tidak dicek lagi. Yang agak repot adalah memasuki pintu scanning terakhir, semua barang di badan kita yang mengandung logam harus dilepas. Tak kecuali ikat pinggang dan sepatu. Laptop juga harus dikeluarkan dari tasnya. Lolos dari sini, barulah kita memasuki ruang utama bandara Tom Bradley, LA. Perjuangan saya berikutnya adalah berdiam di bandara ini selama delapan jam hingga jam 22.30, menunggu penerbangan berikutnya ke Boston. "Phuih....!" (Bersambung/TO BE CONTINUED)
Laporan Rakyat Merdeka Dari Boston, AS (1)
Rakyat Merdeka Report from Boston, US (1)
Muhammad Rusmadi
Ribet Urusan Jenggot Dan Bumbu Dapur
(Being Complicated Because of Beard and Spices)
Berkesempatan meliput pemilihan presiden Amerika Serikat tahun ini merupakan salah satu harapan besar banyak wartawan. Malah sejak akhir 2006 lalu, Raymond Bonner, rekan saya sesama wartawan yang bekerja untuk koran Amerika, The New York Times sudah bilang sama saya, 2008 adalah saat -saat penting buat seorang wartawan untuk bisa berada di Amerika. Saat itu, terus terang, saya tidak berharap banyak untuk bisa melakukan liputan ke wilayah pojok bumi sebelah sana itu. Dan saya juga bukan pada posisi yang nyaman membikin situasi agar saya besar kemungkinan mendapat penugasan peliputan kali ini. Meski dalam hati, keinginan itu tentu tetap ada, mengingat pentingnya pemilu kali ini. Terlebih sebagai wartawan, saya juga merasa penting untuk bisa menjadi saksi sejarah bagaimana Amerika berubah.
Karena pada pemilu kali inilah Amerika akan menentukan sejarah dan masa depannya. Apakah akan dipimpin orang keturunan kulit hitam pertama sepanjang sejarah Amerika yang muda, cerdas, energetik, dan berpikiran terbuka, pecinta damai alias anti perang, yang diwakili oleh sosok Barack Obama itu. Atau, akan dipimpin presiden paling tua dalam sejarah negeri Abang Sam, penerus berbagai kebijakan Presiden Bush yang kontroversial dan memuakkan banyak orang seluruh dunia dengan kebijakan perangnya, John McCain, meski berkali-kali dia bantah bahwa McCain bukan Bush.
Sampai akhirnya, pada 3 Juli lalu, Asisten Atase Pers Kedubes Amerika Serikat (Kedubes AS) di Jakarta, Stafford A. Ward berkirim surat secara langsung kepada saya yang intinya, berisi undangan liputan pilpres AS ini, dengan sejumlah persyaratan. Salah satunya, membuat personal statement of interest. Well, singkatnya, alhamdulillah, bersama 9 rekan media lainnya, dengan bantuan Kedubes AS, kami pun berangkat. Dalam hal ini, Kedubes juga bekerjasama dengan sebuah sekolah komunikasi dan seni di Boston, Massachusetts, Emmerson College.
Seperti umumnya liputan luarnegeri yang disponsori lembaga tertentu, kami pun diberikan briefing oleh Kedubes AS, agar memudahkan proses keberangkatan dan, terutama saat memasuki Amerika Serikat. Meski 10 orang, ternyata kami berangkat dengan pesawat berbeda-beda, sendiri-sendiri. Namun karena tujuannya adalah Amerika, jadi lebih khusus. Begitulah setidaknya menurut saya. Maklum, Amerika harus extra hati-hati terhadap berbagai kemungkinan serangan dengan segala bentuknya. Jadi pemeriksaan ketat di pintu-pintu masuk ke Amerika juga sudah ditekankan kepada kami. Saya, memasuki Amerika dari Los Angeles, California. Agar tidak kerepotan atau kaget, pihak kedubes juga sudah mewanti-wanti akan bagaimana kemungkinan besarnya perlakuan pihak imigrasi Amerika terhadap setiap penumpang pesawat yang memasuki kota pertama Amerika. Yang jelas, kaum pria, akan sedikit repot dibanding perempuan karena harus diperiksa ekstra ketimbang perempuan.
Ini perjalanan pertama saya ke Amrik. Saat ke Jerman, saya tidak terlalu deg-degan tidak memotong jenggot saya, atau dengan nama depan saya, Muhammad. Beberapa rekan saya menyarankan, "Mending dihabisin aja tuh jenggot". Penasaran berat, saya cross-check ke Stafford sambil cengar-cengir. Eh, dia malah juga ngetawain. "Emang jenggot kamu gede banget apa?," begitu kira-kira dia menjawab penasaran saya. Well, nasib jenggot saya pun akhirnya selamat. Tak digundul habis, cuma dipendekin sedikit.
Ini mengingatkan saya pada cerita rekannya yang juga studi di Hawaii sana, yang mengaku rela menggundul habis bulu di dagunya demi "keamanan" memperoleh visa Amrik. Saya cuma ketawa-ketawa kalau ingat ini. Padahal, namanya tidak ada mirip-mirip dengan nama-nama Arab, Muhammad kayak saya, atau Ahmad. Karena belakangan saat di Boston, rekan senior saya yang menjadi asisten profesor di California juga curhat soal namanya, Muhammad Ali. Deg-degan ini juga karena ternyata salah satu rekan kami dari sebuah stasiun radio Jakarta akhirnya malah tidak mendapatkan visa menjelang keberangkat ke Amrik. Alasannya nggak jelas. Apakah ditunda atau ditolak. Saya, termasuk yang mendapat visa dua hari menjelang keberangkatan. Alhamdulillah, dapat juga.
Saat tahu akan ke Boston, saya pun mengabari rekan saya yang sedang studi di Harvard University, Sukidi Mulyadi. Tentu, kami sama-sama gembira karena lama tak bertemu. Dia berjanji akan membantu saya selama berada di Boston. Alhamdulillah, pikir saya. Tapi, yang membuat saya rada deg-degan, teman lama sya ini minta titipan bumbu masak dan kue lapis legit. Mungkin, lama tidak pulang ke Indonesia, sehingga kangen berat. Waduh, pikir saya lagi. Bukannya produk hewan, juga bumbu-bumbuan termasuk yang ditekankan tidak dibawa oleh pihak Kedubes AS? Tapi saya akhirnya tetap akan membawa titipan tersebut dan memasukkannya di bagasi. Setelah penerbanan panjang dan akan mendarat di bandara pertama di AS, Los Angeles (LA), kami dibagikan form untuk diisi. Salah satunya dari Imigrasi dan Bea Cukai AS. Dan, benar, ternyata salah satu pertanyaan yang harus dijawab adalah apakah saya membawa produk hewan. Saya tadinya berpikir tidak akan mengisi karena menduga bagasi saya akan tiba di Boston langsung, bandara kedua di AS, tujuan akhir saya. Tapi bagaimana kalau bagasi ternyata harus diambil dulu di LA? Well, saya pun akhirnya memutuskan mengisi jawaban 'ya'.
Memasuki bandara Tom Bradley, LA, ternyata tak seribet yang saya bayangkan. Saat itu memang sekitar pukul 14.00. Jadi nggak terlalu puyeng. Dan antrian tidak parah saat berhadapan dengan meja petugas Imigrasi. Sejak dari pesawat, saya sudah siap-siap. Di bandara, saya diminta mengisi form biodata lagi. Tapi di kelompok saya umumnya hanya orang-orang Asia. Setelah mengisi form, scanning jari tangan dan difoto, saya pun dipersilakan memasuki antrian ke tempat pengambilan bagasi. Ternyata, disnilah saya diinterogasi spontan oleh petugas. "Produk hewan apa yang Anda bawa?," tanyanya. Saya kaget, karena tidak menyangka bukannya ditanyai saat pengisian form tadi, tapi malah menjelang masuk antrian. Celakanya, saya lupa setelah bilang 'kue' dan 'bumbu dapur', mestinya saya bilang 'spices', malah 'kitchen stuff'. Barang-barang dapur. Si petugas ini pun malah jadi penasaran. "Apa? Barang dapur bagaimana maksud Anda ?," tanyanya lagi. "Waduh, bisa panjang nih urusan," saya pikir. Saya pun menawarkan untuk membuka tas bagasi saya yang kebetulan cuma satu tas ransel punggung besar.
Mungkin karena antrian di belakang saya lumayan banyak, dia pun akhirnya menyilakan saya terus. "Ah, slame...t, slame....t," pikir saya. Nasib bumbu ayam dana sapi titipan teman saya itu akhirnya aman. Apalagi karena bumbu itu tertutup rapat sejak saat dibeli dan kering. Sebenarnya teman saya memang sudah bilang bahwa produk yang saya bawa akan 'aman'. Termasuk saat memasuki pintu 'scanning' berikutnya, bagasi saya tidak dicek lagi. Yang agak repot adalah memasuki pintu scanning terakhir, semua barang di badan kita yang mengandung logam harus dilepas. Tak kecuali ikat pinggang dan sepatu. Laptop juga harus dikeluarkan dari tasnya. Lolos dari sini, barulah kita memasuki ruang utama bandara Tom Bradley, LA. Perjuangan saya berikutnya adalah berdiam di bandara ini selama delapan jam hingga jam 22.30, menunggu penerbangan berikutnya ke Boston. "Phuih....!" (Bersambung/TO BE CONTINUED)
Subscribe to:
Posts (Atom)