Thu, Oct. 30, 2008
Laporan Rakyat Merdeka Dari Boston, AS (4)
Rakyat Merdeka Report from Boston, US (4)
Muhammad Rusmadi
Seruan Nyoblos Di Sekitar Masjid
(A Call to Vote around Mosque)
Selama berada di Boston untuk meliput suasana hajatan pemilihan presiden (pilpres) Amerika, saya berusaha sebisanya menyempat mengeksplorasi kota ini. Boston adalah sebuah kota terkenal dan sangat tua, kota terbesar dan sekaligus sebagai ibukota negara bagian Massachusetts. Kotanya tenang. Tidak ada macet, dan untuk kawasan pusat kota, kemana-mana bisa dilakukan hanya dengan berjalan kaki.
Kota ini didirikan pada 17 September 1630 oleh kaumj kolonial Inggris. Dan sebagai kota tua, disini banyak sekali tempat bersejarah. Di antaranya, gedung tempat dideklarasikannya Kemerdekaan Amerika, 14 Juli 1776, di kawasan Washington Street, Boston. Selain itu, disinilah adanya kampus yang sangat terkenal itu, Harvard University.
Sebagai Muslim, saya penasaran, apakah ada masjid di sekitar kota ini. Untuk urusan shalat, saya sejak dari Indonesia sudah menyiapkan jadwal shalat kota Boston dengan surfing di internet. Dapat. Sayangnya, di sekitar pusat kota tidak ketemu masjid. Dimana-mana umumnya museum, gereja, atau teater.
Satu ketika, bersama dua rekan wartawan lainnya, saya disarankan DR. J Gregory Payne dari Emersion College untuk melihat-lihat museum. Kami lalu naik kereta bawahtanah, subway. Sekitar 15 menit kemudian, kami tiba di lokasi museum. Namun kami akhirnya sepakat batal masuk museum dan ingin lebih menikmati suasana pinggiran kota Boston. Suasana kota saat ini sudah sangat dingin, karena meski belum memasuki musim salju, angin musim gugur sudah terasa menusuk tulang. Terlebih buat kita yang biasa tinggal kawasan tropis seperti Indonesia.
Sekitar 15 menit berjalan kaki, kami tak sengaja melihat bangunan masjid. Tadinya kami ragu. Namun setelah melihat tanda bulan sabit di pucuk kubahnya, kami akhirnya memasuki masjid tersebut. Tak ada papan nama di depannya yang menandakan bahwa ini adalah masjid. Juga kumandang azan lewat mikrofon karena akan “berisik” dan “mengganggu” ketenangan warga di sekitar masjid.
Saya teringat rekan saya yang pernah tinggal di Singapura yang menceritakan hal yang sama tentang adzan di masjid sana. Hanya menggunakan mikrofon dalam masjid. Begitulah masjid yang berada di tengah kota yang warga setempat umumnya non Muslim. Memiliki kubah bulat pada bagian atap.
Kami tiba sekitar pukul 18.00, kebetulan sama dengan di Indonesia, waktunya shalat maghrib. Karena udara yang dingin, suasana di luar sepi, tak ada orang. Saya pikir di dalam mungkin banyak orang. Tapi ternyata shalat maghrib sudah dimulai, dan saya buru-buru bergabung untuk shalat.
Di sekitar masjid ini, juga terdapat plang berisi seruan untuk tidak lupa mencoblos pada 4 November mendatang. Dan bisa ditebak, umumnya jamaah masjid ini adalah juga para pendukung Obama. “Obama lebih sebagai simbol bagi warga imigran Amerika,” jelas Bilal Kaleem, Direktur Eksekutif Masyarakat Muslim Boston (MAS). Sehari-hari, dialah yang menjadi pimpinan di masjid ini.
Yang jelas, untuk urusan pilpres Amrik kali ini, sejak dulu, Boston benar-benar di atas angin. Boston dan negara bagian Massachusetts secara umum adalah kandangannya kaum Demokrat. Jadi umumnya warga sini adalah pendukung Barack Obama.
Meski demikian, bukan berarti warga pro John McCain tidak ada. Malah di pusat kota, tak jauh dari Emerson College, terdapat Markas Kemenangan McCain. Tapi sudah bisa ditebak, suasananya sepi. Di dalam, hanya ada beberapa orang sukarelawan yang bekerja untuk kantor ini . Tugas mereka di antaranya menghubungi warga –umumnya dengan telepon-- dan meyakinkan mereka untuk nyoblos McCain pada Selasa, 4 November nanti. (Bersambung)
Wednesday, May 13, 2009
Andai Obama Seorang Muslim (If Obama is a Muslim)
Wedn, Oct. 29, 2008
Laporan Rakyat Merdeka Dari Boston, AS (3)
Rakyat Merdeka Report from Boston, US (3)
Muhammad Rusmadi
Andai Obama Seorang Muslim
(If Obama is A Moslem)
Hajatan pilpres Amerika yang akan digelar Selasa, 4 November nanti, rasanya seperti sebuah pertunjukan jor-joran buat masyarakat dunia internasional. Disinilah Amerika, negara dengan konsep demokrasinya yang paling tua dalam sejarah manusia modern akan diuji. Siap atau tidak.
Salah satu masalah yang sejak beberapa waktu lalu mengemuka adalah isu SARA. Dalam hal ini agama. Barakc Obama misalnya terlihat begitu ketakutan saat dia dianggap sebagai seorang Islam. Kita tahu, Hussein Obama, ayah Obama asal Kenya yang sudah almarhum itu adalah seorang Muslim. Dan, Barack Obama menggunakan nama tengahnya 'Hussein', sebuah nama yang dengan gampang dianggap sebagai nama seorang Islam, atau malah celakanya, dianggap punya hubungan dengan teroris!
“John McCain atau orang-orang Republikan akan dengan sengaja menyebut nama Barack Obama dengan lengkap dan menekankan nama tengahnya Barack 'Hussein' (dinyaringkan sebagai penekanan -red) Obama,” jelas Bilal Kaleem, Direktur Eksekutif Masyarakat Muslim Amerika di Boston.
Hal ini, lanjutnya, sebagai upaya memberi kesan, Obama boleh jadi punya “nawaitu yang tidak murni” bila nanti terpilih sebagai presiden Amerika. Mungkin dia bersimpati pada orang Islam. Dan, boleh jadi juga dia sedikit banyak akan bersimpati pada teroris-teroris itu.
Hal ini terus membuat saya tidak nyaman saat berlangsung orientasi untuk liputan menjelang hari-hari pilpres AS 4 November mendatang. Salah satunya karena nama nama depan saya, Muhammad. “Yah, mau bagaimana lagi. Suka atau tidak, di negeri ini yang mayoritas adalah kaum Kristiani,” gumam saya dalam hati.
Kita juga tahu, selama ini juga ada semacam aturan tak tertulis, presiden Amrik haruslah seorang Protestan. Tidak boleh Katolik. Lalu bagaimana lagi dengan Islam? Atau seorang capres yang misalnya “berbau” Islam? Jangankan itu, saya masih lanjut membatin, seorang Yahudi Amrik saja, belum tentu siap untuk dijadikan presiden di negeri mbah-nya demokrasi ini. Mungkin bangsa Amerika siap. Tapi, sisi strategi keamanan dalam negeri dari gangguan teroris internasional yang anti Yahudi, sangat boleh jadi akan sangat berisiko. Atau, prospek hubungan yang bisa tambah amburadul dengan negara semacam Iran, atau yang lainnya.
Tentang bahwa Amrik adalah negara Kristen, bandingannya kurang lebih seperti Indonesia, yang mayoritas, bahkan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Siapkah kita dipimpin seorang, katakanlah, Protestan atau Katolik, Budhha, Hindu Bali, misalnya. Mungkin akan pusing 14 keliling membayangkan kemungkinan seperti ini. Padahal kalau jujur, bukankah semua warga berhak dipilih dalam kalau kita memang menyebut bangsa yang menganut paham demokrasi?
Masih tentang semacam identitas Amrik sebagai sebuah bangsa Kristen ini, dalam orientasi pra liputan pilpres AS di Emerson College, Boston, kami 10 wartawan Indonesia juga mendiskusikan berbagai rekaman kegiatan dan kampanye warga Amrik. Salah satunya, bagaimana pandangan umum warga kaum tua dan konservatif Amrik ini tadi. Saya rada kaget saat melihat tayangan di Ohio –negara bagian dengan kekuatan berimbang antara Demokrat dan Republik. “Ini negara Kristen. Jangan diserahkan kepada orang Islam...” Demikian antara lain pandangan yang memang ada di tengah masyarakat Amrik saat ini.
Ini menunjukkan, sebagian warga Amrik yang kaum tua ini tadi memang masih picik soal Islam. Meski usai tragedi WTC dahulu itu, sesungguhnya juga tidak sedikit warga Amrik yang juga masuk Islam. Ini fakta lain yang menunjukkan juga ada gelombang masyarakat Amrik yang penasaran, belajar sendiri dan membaca lalu pindah agama ke Islam.
Sayangnya, ini tidak menjadi isu yang laku dijual oleh media-media Amrik saat ini. Terlebih dalam demam pilpres Amrik seperti saat sekarang, isu Islam, malah jadi harus dikesampingkan jauh-jauh.
Untungnya, menurut Direktur Polling Institute of Politics John F. Kennedy School of Government, Cambridge, John Della Volve, isu-isu SARA semacam ini meski ada, tapi tidak bisa membuat capres seperti Obama goyang. Tak cuma itu, karena gejala semacam ini menurutnya sudah berlangsung sejak 10 lalu namun terbukti tak pernah berhasil.
Yang menarik, lanjutnya, sebenarnya saat ini kalangan muda Amrik malah mulai kembali kepada agama. Mulai relijius dalam arti luas. Ada yang memeluk agama-agama besar dunia, atau bahkan menjadi spiritualis yang tak terbatas hanya pada memeluk agama-agama yang ada selama ini. (Bersambung)
Laporan Rakyat Merdeka Dari Boston, AS (3)
Rakyat Merdeka Report from Boston, US (3)
Muhammad Rusmadi
Andai Obama Seorang Muslim
(If Obama is A Moslem)
Hajatan pilpres Amerika yang akan digelar Selasa, 4 November nanti, rasanya seperti sebuah pertunjukan jor-joran buat masyarakat dunia internasional. Disinilah Amerika, negara dengan konsep demokrasinya yang paling tua dalam sejarah manusia modern akan diuji. Siap atau tidak.
Salah satu masalah yang sejak beberapa waktu lalu mengemuka adalah isu SARA. Dalam hal ini agama. Barakc Obama misalnya terlihat begitu ketakutan saat dia dianggap sebagai seorang Islam. Kita tahu, Hussein Obama, ayah Obama asal Kenya yang sudah almarhum itu adalah seorang Muslim. Dan, Barack Obama menggunakan nama tengahnya 'Hussein', sebuah nama yang dengan gampang dianggap sebagai nama seorang Islam, atau malah celakanya, dianggap punya hubungan dengan teroris!
“John McCain atau orang-orang Republikan akan dengan sengaja menyebut nama Barack Obama dengan lengkap dan menekankan nama tengahnya Barack 'Hussein' (dinyaringkan sebagai penekanan -red) Obama,” jelas Bilal Kaleem, Direktur Eksekutif Masyarakat Muslim Amerika di Boston.
Hal ini, lanjutnya, sebagai upaya memberi kesan, Obama boleh jadi punya “nawaitu yang tidak murni” bila nanti terpilih sebagai presiden Amerika. Mungkin dia bersimpati pada orang Islam. Dan, boleh jadi juga dia sedikit banyak akan bersimpati pada teroris-teroris itu.
Hal ini terus membuat saya tidak nyaman saat berlangsung orientasi untuk liputan menjelang hari-hari pilpres AS 4 November mendatang. Salah satunya karena nama nama depan saya, Muhammad. “Yah, mau bagaimana lagi. Suka atau tidak, di negeri ini yang mayoritas adalah kaum Kristiani,” gumam saya dalam hati.
Kita juga tahu, selama ini juga ada semacam aturan tak tertulis, presiden Amrik haruslah seorang Protestan. Tidak boleh Katolik. Lalu bagaimana lagi dengan Islam? Atau seorang capres yang misalnya “berbau” Islam? Jangankan itu, saya masih lanjut membatin, seorang Yahudi Amrik saja, belum tentu siap untuk dijadikan presiden di negeri mbah-nya demokrasi ini. Mungkin bangsa Amerika siap. Tapi, sisi strategi keamanan dalam negeri dari gangguan teroris internasional yang anti Yahudi, sangat boleh jadi akan sangat berisiko. Atau, prospek hubungan yang bisa tambah amburadul dengan negara semacam Iran, atau yang lainnya.
Tentang bahwa Amrik adalah negara Kristen, bandingannya kurang lebih seperti Indonesia, yang mayoritas, bahkan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Siapkah kita dipimpin seorang, katakanlah, Protestan atau Katolik, Budhha, Hindu Bali, misalnya. Mungkin akan pusing 14 keliling membayangkan kemungkinan seperti ini. Padahal kalau jujur, bukankah semua warga berhak dipilih dalam kalau kita memang menyebut bangsa yang menganut paham demokrasi?
Masih tentang semacam identitas Amrik sebagai sebuah bangsa Kristen ini, dalam orientasi pra liputan pilpres AS di Emerson College, Boston, kami 10 wartawan Indonesia juga mendiskusikan berbagai rekaman kegiatan dan kampanye warga Amrik. Salah satunya, bagaimana pandangan umum warga kaum tua dan konservatif Amrik ini tadi. Saya rada kaget saat melihat tayangan di Ohio –negara bagian dengan kekuatan berimbang antara Demokrat dan Republik. “Ini negara Kristen. Jangan diserahkan kepada orang Islam...” Demikian antara lain pandangan yang memang ada di tengah masyarakat Amrik saat ini.
Ini menunjukkan, sebagian warga Amrik yang kaum tua ini tadi memang masih picik soal Islam. Meski usai tragedi WTC dahulu itu, sesungguhnya juga tidak sedikit warga Amrik yang juga masuk Islam. Ini fakta lain yang menunjukkan juga ada gelombang masyarakat Amrik yang penasaran, belajar sendiri dan membaca lalu pindah agama ke Islam.
Sayangnya, ini tidak menjadi isu yang laku dijual oleh media-media Amrik saat ini. Terlebih dalam demam pilpres Amrik seperti saat sekarang, isu Islam, malah jadi harus dikesampingkan jauh-jauh.
Untungnya, menurut Direktur Polling Institute of Politics John F. Kennedy School of Government, Cambridge, John Della Volve, isu-isu SARA semacam ini meski ada, tapi tidak bisa membuat capres seperti Obama goyang. Tak cuma itu, karena gejala semacam ini menurutnya sudah berlangsung sejak 10 lalu namun terbukti tak pernah berhasil.
Yang menarik, lanjutnya, sebenarnya saat ini kalangan muda Amrik malah mulai kembali kepada agama. Mulai relijius dalam arti luas. Ada yang memeluk agama-agama besar dunia, atau bahkan menjadi spiritualis yang tak terbatas hanya pada memeluk agama-agama yang ada selama ini. (Bersambung)
Teriakan Obama Dari Boston Sampai Afrika (Obama’s Yell from Boston to Africa)
Tue, Oct. 28, 2008
Laporan Rakyat Merdeka Dari Boston, AS (2)
Rakyat Merdeka Report from Boston, US (2)
Muhammad Rusmadi
Teriakan Obama Dari Boston Sampai Afrika
(Obama’s Yell from Boston to Africa)
Pilpres Amerika kali ini memang menjadi perhatin luas dunia internasional, tak terkecuali Indonesia. Indonesia, karena salah satu capres AS ini, Barack Obama, memang pernah tinggal di Menteng, Jakarta saat Obama masih kecil. Sehingga seolah ada hubungan emosional antara Indonesia dengan Obama.
Saat transit di Hong Kong dalam perjalanan ke Boston, AS, di toko-toko buku bandara juga buku-buku tentang Obama dan pesaingnya, John McCain sudah berjejer menyambut mata karena lumayan mendominasi. Buku-buku dengan sampul wajah Obama dan McCain terpampang dimana-mana. Termasuk di berbagai majalah dan suratkabar.
Jennan Al-Hamdouni, seorang mahasiswi Emerson College, Boston juga menuturkan hal yang sama. Saat dia bepergian ke Afrika beberapa waktu lalu, akunya, simpati dukungan luar biasa terhadap Obama juga terlihat. "Mereka sering meneriakkan yel-yel Obama! Obama!," jelas mahasiswi keturunan Irak-Italia ini. Simpati itu jelas, lanjutnya, karena Obama memang keturunan Afrika (Kenya). Jadi punya hubungan emosional yang kuat seperti halnya Indonesia.
Terlepas dari itu, khususnya bagi warga Amerika keturunan atau imigran, memilih Obama menjadi semacam simbol. Dari kalangan imigran manapun, tak hanya warga keturunan Afrika. Demikian menurut Bilal Kaleem, Direktur Eksekutif Masyarakat Muslim Amerika di Boston.
Meski demikian, untuk kebijakan luarnegeri, pendukung Obama ini menilai tidak akan banyak berubah, termasuk bila Obama nantinya terpilih. "Yang jelas, Obama akan lebih terbuka berbicara kepada negara-negara tertentu yang saat ini belum ada komunikasi seperti Iran," jelasnya. Selama ini, kita tahu, memang tak ada hubungan diplomasi antara kedua negara.
Dan yang paling menarik, partisipasi warga Amerika kali mengikuti pilpres kali jauh lebih antusias ketimbang pilpres-pilpres AS sebelumnya. "Dulu, jarang sekali kita melihat spanduk-spanduk di tempat-tempat terbuka seperti pilpres kali ini," aku Elizabeth Dann, muslimah Amerika di Boston.
Dan dari kedua capres yang kini, Barack Obama dan John McCain, harus juga diakui, popularitas Obama terus bertengger di atas. Termasuk di kalangan anak muda Amrik. Ini karena salah satu jurus Obama adalah menggunakan teknologi internet untuk menjaring para pemilih muda. Salah satunya melalui 'Face Book'. Hal ini menurut Prof. Linda Gallant, di Emerson College, Boston. Hingga 25 Oktober lalu misalnya, pendukung pasangan Obama-Joe Biden sudah mencapai 2.260.720 orang. Sementara pasangan McCain-Sarah Palin, hanya mengantongi 598.271.
Selama ini, kesan dari kedua capres memang dianggap bertentangan 180 derajat. Obama mewakili kaum muda. Sedang McCain, mewakili kaum tua. Dan ternyata, kaum tua Amerika ini pun dianggap tidak terlalu familiar dengan yang namanya dunia internet ini. Meski ada, disain blog yang ditampilkan pun jauh lebih atraktif ketimbang blog-blog yang dimiliki John McCain. Disinilah pertempuran lagi-lagi tidak terlihat imbang antara keduanya. "Ini juga menunjukkan, mereka yang ada di lingkaran Obama jauh lebih kreatif ketimbang di lingkaran McCain," lanjut Linda. (Bersambung)
Laporan Rakyat Merdeka Dari Boston, AS (2)
Rakyat Merdeka Report from Boston, US (2)
Muhammad Rusmadi
Teriakan Obama Dari Boston Sampai Afrika
(Obama’s Yell from Boston to Africa)
Pilpres Amerika kali ini memang menjadi perhatin luas dunia internasional, tak terkecuali Indonesia. Indonesia, karena salah satu capres AS ini, Barack Obama, memang pernah tinggal di Menteng, Jakarta saat Obama masih kecil. Sehingga seolah ada hubungan emosional antara Indonesia dengan Obama.
Saat transit di Hong Kong dalam perjalanan ke Boston, AS, di toko-toko buku bandara juga buku-buku tentang Obama dan pesaingnya, John McCain sudah berjejer menyambut mata karena lumayan mendominasi. Buku-buku dengan sampul wajah Obama dan McCain terpampang dimana-mana. Termasuk di berbagai majalah dan suratkabar.
Jennan Al-Hamdouni, seorang mahasiswi Emerson College, Boston juga menuturkan hal yang sama. Saat dia bepergian ke Afrika beberapa waktu lalu, akunya, simpati dukungan luar biasa terhadap Obama juga terlihat. "Mereka sering meneriakkan yel-yel Obama! Obama!," jelas mahasiswi keturunan Irak-Italia ini. Simpati itu jelas, lanjutnya, karena Obama memang keturunan Afrika (Kenya). Jadi punya hubungan emosional yang kuat seperti halnya Indonesia.
Terlepas dari itu, khususnya bagi warga Amerika keturunan atau imigran, memilih Obama menjadi semacam simbol. Dari kalangan imigran manapun, tak hanya warga keturunan Afrika. Demikian menurut Bilal Kaleem, Direktur Eksekutif Masyarakat Muslim Amerika di Boston.
Meski demikian, untuk kebijakan luarnegeri, pendukung Obama ini menilai tidak akan banyak berubah, termasuk bila Obama nantinya terpilih. "Yang jelas, Obama akan lebih terbuka berbicara kepada negara-negara tertentu yang saat ini belum ada komunikasi seperti Iran," jelasnya. Selama ini, kita tahu, memang tak ada hubungan diplomasi antara kedua negara.
Dan yang paling menarik, partisipasi warga Amerika kali mengikuti pilpres kali jauh lebih antusias ketimbang pilpres-pilpres AS sebelumnya. "Dulu, jarang sekali kita melihat spanduk-spanduk di tempat-tempat terbuka seperti pilpres kali ini," aku Elizabeth Dann, muslimah Amerika di Boston.
Dan dari kedua capres yang kini, Barack Obama dan John McCain, harus juga diakui, popularitas Obama terus bertengger di atas. Termasuk di kalangan anak muda Amrik. Ini karena salah satu jurus Obama adalah menggunakan teknologi internet untuk menjaring para pemilih muda. Salah satunya melalui 'Face Book'. Hal ini menurut Prof. Linda Gallant, di Emerson College, Boston. Hingga 25 Oktober lalu misalnya, pendukung pasangan Obama-Joe Biden sudah mencapai 2.260.720 orang. Sementara pasangan McCain-Sarah Palin, hanya mengantongi 598.271.
Selama ini, kesan dari kedua capres memang dianggap bertentangan 180 derajat. Obama mewakili kaum muda. Sedang McCain, mewakili kaum tua. Dan ternyata, kaum tua Amerika ini pun dianggap tidak terlalu familiar dengan yang namanya dunia internet ini. Meski ada, disain blog yang ditampilkan pun jauh lebih atraktif ketimbang blog-blog yang dimiliki John McCain. Disinilah pertempuran lagi-lagi tidak terlihat imbang antara keduanya. "Ini juga menunjukkan, mereka yang ada di lingkaran Obama jauh lebih kreatif ketimbang di lingkaran McCain," lanjut Linda. (Bersambung)
Ribet Urusan Jenggot Dan Bumbu Dapur (Being Complicated Because of Beard and Spices)
Monday, Oct. 27, 2008
Laporan Rakyat Merdeka Dari Boston, AS (1)
Rakyat Merdeka Report from Boston, US (1)
Muhammad Rusmadi
Ribet Urusan Jenggot Dan Bumbu Dapur
(Being Complicated Because of Beard and Spices)
Berkesempatan meliput pemilihan presiden Amerika Serikat tahun ini merupakan salah satu harapan besar banyak wartawan. Malah sejak akhir 2006 lalu, Raymond Bonner, rekan saya sesama wartawan yang bekerja untuk koran Amerika, The New York Times sudah bilang sama saya, 2008 adalah saat -saat penting buat seorang wartawan untuk bisa berada di Amerika. Saat itu, terus terang, saya tidak berharap banyak untuk bisa melakukan liputan ke wilayah pojok bumi sebelah sana itu. Dan saya juga bukan pada posisi yang nyaman membikin situasi agar saya besar kemungkinan mendapat penugasan peliputan kali ini. Meski dalam hati, keinginan itu tentu tetap ada, mengingat pentingnya pemilu kali ini. Terlebih sebagai wartawan, saya juga merasa penting untuk bisa menjadi saksi sejarah bagaimana Amerika berubah.
Karena pada pemilu kali inilah Amerika akan menentukan sejarah dan masa depannya. Apakah akan dipimpin orang keturunan kulit hitam pertama sepanjang sejarah Amerika yang muda, cerdas, energetik, dan berpikiran terbuka, pecinta damai alias anti perang, yang diwakili oleh sosok Barack Obama itu. Atau, akan dipimpin presiden paling tua dalam sejarah negeri Abang Sam, penerus berbagai kebijakan Presiden Bush yang kontroversial dan memuakkan banyak orang seluruh dunia dengan kebijakan perangnya, John McCain, meski berkali-kali dia bantah bahwa McCain bukan Bush.
Sampai akhirnya, pada 3 Juli lalu, Asisten Atase Pers Kedubes Amerika Serikat (Kedubes AS) di Jakarta, Stafford A. Ward berkirim surat secara langsung kepada saya yang intinya, berisi undangan liputan pilpres AS ini, dengan sejumlah persyaratan. Salah satunya, membuat personal statement of interest. Well, singkatnya, alhamdulillah, bersama 9 rekan media lainnya, dengan bantuan Kedubes AS, kami pun berangkat. Dalam hal ini, Kedubes juga bekerjasama dengan sebuah sekolah komunikasi dan seni di Boston, Massachusetts, Emmerson College.
Seperti umumnya liputan luarnegeri yang disponsori lembaga tertentu, kami pun diberikan briefing oleh Kedubes AS, agar memudahkan proses keberangkatan dan, terutama saat memasuki Amerika Serikat. Meski 10 orang, ternyata kami berangkat dengan pesawat berbeda-beda, sendiri-sendiri. Namun karena tujuannya adalah Amerika, jadi lebih khusus. Begitulah setidaknya menurut saya. Maklum, Amerika harus extra hati-hati terhadap berbagai kemungkinan serangan dengan segala bentuknya. Jadi pemeriksaan ketat di pintu-pintu masuk ke Amerika juga sudah ditekankan kepada kami. Saya, memasuki Amerika dari Los Angeles, California. Agar tidak kerepotan atau kaget, pihak kedubes juga sudah mewanti-wanti akan bagaimana kemungkinan besarnya perlakuan pihak imigrasi Amerika terhadap setiap penumpang pesawat yang memasuki kota pertama Amerika. Yang jelas, kaum pria, akan sedikit repot dibanding perempuan karena harus diperiksa ekstra ketimbang perempuan.
Ini perjalanan pertama saya ke Amrik. Saat ke Jerman, saya tidak terlalu deg-degan tidak memotong jenggot saya, atau dengan nama depan saya, Muhammad. Beberapa rekan saya menyarankan, "Mending dihabisin aja tuh jenggot". Penasaran berat, saya cross-check ke Stafford sambil cengar-cengir. Eh, dia malah juga ngetawain. "Emang jenggot kamu gede banget apa?," begitu kira-kira dia menjawab penasaran saya. Well, nasib jenggot saya pun akhirnya selamat. Tak digundul habis, cuma dipendekin sedikit.
Ini mengingatkan saya pada cerita rekannya yang juga studi di Hawaii sana, yang mengaku rela menggundul habis bulu di dagunya demi "keamanan" memperoleh visa Amrik. Saya cuma ketawa-ketawa kalau ingat ini. Padahal, namanya tidak ada mirip-mirip dengan nama-nama Arab, Muhammad kayak saya, atau Ahmad. Karena belakangan saat di Boston, rekan senior saya yang menjadi asisten profesor di California juga curhat soal namanya, Muhammad Ali. Deg-degan ini juga karena ternyata salah satu rekan kami dari sebuah stasiun radio Jakarta akhirnya malah tidak mendapatkan visa menjelang keberangkat ke Amrik. Alasannya nggak jelas. Apakah ditunda atau ditolak. Saya, termasuk yang mendapat visa dua hari menjelang keberangkatan. Alhamdulillah, dapat juga.
Saat tahu akan ke Boston, saya pun mengabari rekan saya yang sedang studi di Harvard University, Sukidi Mulyadi. Tentu, kami sama-sama gembira karena lama tak bertemu. Dia berjanji akan membantu saya selama berada di Boston. Alhamdulillah, pikir saya. Tapi, yang membuat saya rada deg-degan, teman lama sya ini minta titipan bumbu masak dan kue lapis legit. Mungkin, lama tidak pulang ke Indonesia, sehingga kangen berat. Waduh, pikir saya lagi. Bukannya produk hewan, juga bumbu-bumbuan termasuk yang ditekankan tidak dibawa oleh pihak Kedubes AS? Tapi saya akhirnya tetap akan membawa titipan tersebut dan memasukkannya di bagasi. Setelah penerbanan panjang dan akan mendarat di bandara pertama di AS, Los Angeles (LA), kami dibagikan form untuk diisi. Salah satunya dari Imigrasi dan Bea Cukai AS. Dan, benar, ternyata salah satu pertanyaan yang harus dijawab adalah apakah saya membawa produk hewan. Saya tadinya berpikir tidak akan mengisi karena menduga bagasi saya akan tiba di Boston langsung, bandara kedua di AS, tujuan akhir saya. Tapi bagaimana kalau bagasi ternyata harus diambil dulu di LA? Well, saya pun akhirnya memutuskan mengisi jawaban 'ya'.
Memasuki bandara Tom Bradley, LA, ternyata tak seribet yang saya bayangkan. Saat itu memang sekitar pukul 14.00. Jadi nggak terlalu puyeng. Dan antrian tidak parah saat berhadapan dengan meja petugas Imigrasi. Sejak dari pesawat, saya sudah siap-siap. Di bandara, saya diminta mengisi form biodata lagi. Tapi di kelompok saya umumnya hanya orang-orang Asia. Setelah mengisi form, scanning jari tangan dan difoto, saya pun dipersilakan memasuki antrian ke tempat pengambilan bagasi. Ternyata, disnilah saya diinterogasi spontan oleh petugas. "Produk hewan apa yang Anda bawa?," tanyanya. Saya kaget, karena tidak menyangka bukannya ditanyai saat pengisian form tadi, tapi malah menjelang masuk antrian. Celakanya, saya lupa setelah bilang 'kue' dan 'bumbu dapur', mestinya saya bilang 'spices', malah 'kitchen stuff'. Barang-barang dapur. Si petugas ini pun malah jadi penasaran. "Apa? Barang dapur bagaimana maksud Anda ?," tanyanya lagi. "Waduh, bisa panjang nih urusan," saya pikir. Saya pun menawarkan untuk membuka tas bagasi saya yang kebetulan cuma satu tas ransel punggung besar.
Mungkin karena antrian di belakang saya lumayan banyak, dia pun akhirnya menyilakan saya terus. "Ah, slame...t, slame....t," pikir saya. Nasib bumbu ayam dana sapi titipan teman saya itu akhirnya aman. Apalagi karena bumbu itu tertutup rapat sejak saat dibeli dan kering. Sebenarnya teman saya memang sudah bilang bahwa produk yang saya bawa akan 'aman'. Termasuk saat memasuki pintu 'scanning' berikutnya, bagasi saya tidak dicek lagi. Yang agak repot adalah memasuki pintu scanning terakhir, semua barang di badan kita yang mengandung logam harus dilepas. Tak kecuali ikat pinggang dan sepatu. Laptop juga harus dikeluarkan dari tasnya. Lolos dari sini, barulah kita memasuki ruang utama bandara Tom Bradley, LA. Perjuangan saya berikutnya adalah berdiam di bandara ini selama delapan jam hingga jam 22.30, menunggu penerbangan berikutnya ke Boston. "Phuih....!" (Bersambung/TO BE CONTINUED)
Laporan Rakyat Merdeka Dari Boston, AS (1)
Rakyat Merdeka Report from Boston, US (1)
Muhammad Rusmadi
Ribet Urusan Jenggot Dan Bumbu Dapur
(Being Complicated Because of Beard and Spices)
Berkesempatan meliput pemilihan presiden Amerika Serikat tahun ini merupakan salah satu harapan besar banyak wartawan. Malah sejak akhir 2006 lalu, Raymond Bonner, rekan saya sesama wartawan yang bekerja untuk koran Amerika, The New York Times sudah bilang sama saya, 2008 adalah saat -saat penting buat seorang wartawan untuk bisa berada di Amerika. Saat itu, terus terang, saya tidak berharap banyak untuk bisa melakukan liputan ke wilayah pojok bumi sebelah sana itu. Dan saya juga bukan pada posisi yang nyaman membikin situasi agar saya besar kemungkinan mendapat penugasan peliputan kali ini. Meski dalam hati, keinginan itu tentu tetap ada, mengingat pentingnya pemilu kali ini. Terlebih sebagai wartawan, saya juga merasa penting untuk bisa menjadi saksi sejarah bagaimana Amerika berubah.
Karena pada pemilu kali inilah Amerika akan menentukan sejarah dan masa depannya. Apakah akan dipimpin orang keturunan kulit hitam pertama sepanjang sejarah Amerika yang muda, cerdas, energetik, dan berpikiran terbuka, pecinta damai alias anti perang, yang diwakili oleh sosok Barack Obama itu. Atau, akan dipimpin presiden paling tua dalam sejarah negeri Abang Sam, penerus berbagai kebijakan Presiden Bush yang kontroversial dan memuakkan banyak orang seluruh dunia dengan kebijakan perangnya, John McCain, meski berkali-kali dia bantah bahwa McCain bukan Bush.
Sampai akhirnya, pada 3 Juli lalu, Asisten Atase Pers Kedubes Amerika Serikat (Kedubes AS) di Jakarta, Stafford A. Ward berkirim surat secara langsung kepada saya yang intinya, berisi undangan liputan pilpres AS ini, dengan sejumlah persyaratan. Salah satunya, membuat personal statement of interest. Well, singkatnya, alhamdulillah, bersama 9 rekan media lainnya, dengan bantuan Kedubes AS, kami pun berangkat. Dalam hal ini, Kedubes juga bekerjasama dengan sebuah sekolah komunikasi dan seni di Boston, Massachusetts, Emmerson College.
Seperti umumnya liputan luarnegeri yang disponsori lembaga tertentu, kami pun diberikan briefing oleh Kedubes AS, agar memudahkan proses keberangkatan dan, terutama saat memasuki Amerika Serikat. Meski 10 orang, ternyata kami berangkat dengan pesawat berbeda-beda, sendiri-sendiri. Namun karena tujuannya adalah Amerika, jadi lebih khusus. Begitulah setidaknya menurut saya. Maklum, Amerika harus extra hati-hati terhadap berbagai kemungkinan serangan dengan segala bentuknya. Jadi pemeriksaan ketat di pintu-pintu masuk ke Amerika juga sudah ditekankan kepada kami. Saya, memasuki Amerika dari Los Angeles, California. Agar tidak kerepotan atau kaget, pihak kedubes juga sudah mewanti-wanti akan bagaimana kemungkinan besarnya perlakuan pihak imigrasi Amerika terhadap setiap penumpang pesawat yang memasuki kota pertama Amerika. Yang jelas, kaum pria, akan sedikit repot dibanding perempuan karena harus diperiksa ekstra ketimbang perempuan.
Ini perjalanan pertama saya ke Amrik. Saat ke Jerman, saya tidak terlalu deg-degan tidak memotong jenggot saya, atau dengan nama depan saya, Muhammad. Beberapa rekan saya menyarankan, "Mending dihabisin aja tuh jenggot". Penasaran berat, saya cross-check ke Stafford sambil cengar-cengir. Eh, dia malah juga ngetawain. "Emang jenggot kamu gede banget apa?," begitu kira-kira dia menjawab penasaran saya. Well, nasib jenggot saya pun akhirnya selamat. Tak digundul habis, cuma dipendekin sedikit.
Ini mengingatkan saya pada cerita rekannya yang juga studi di Hawaii sana, yang mengaku rela menggundul habis bulu di dagunya demi "keamanan" memperoleh visa Amrik. Saya cuma ketawa-ketawa kalau ingat ini. Padahal, namanya tidak ada mirip-mirip dengan nama-nama Arab, Muhammad kayak saya, atau Ahmad. Karena belakangan saat di Boston, rekan senior saya yang menjadi asisten profesor di California juga curhat soal namanya, Muhammad Ali. Deg-degan ini juga karena ternyata salah satu rekan kami dari sebuah stasiun radio Jakarta akhirnya malah tidak mendapatkan visa menjelang keberangkat ke Amrik. Alasannya nggak jelas. Apakah ditunda atau ditolak. Saya, termasuk yang mendapat visa dua hari menjelang keberangkatan. Alhamdulillah, dapat juga.
Saat tahu akan ke Boston, saya pun mengabari rekan saya yang sedang studi di Harvard University, Sukidi Mulyadi. Tentu, kami sama-sama gembira karena lama tak bertemu. Dia berjanji akan membantu saya selama berada di Boston. Alhamdulillah, pikir saya. Tapi, yang membuat saya rada deg-degan, teman lama sya ini minta titipan bumbu masak dan kue lapis legit. Mungkin, lama tidak pulang ke Indonesia, sehingga kangen berat. Waduh, pikir saya lagi. Bukannya produk hewan, juga bumbu-bumbuan termasuk yang ditekankan tidak dibawa oleh pihak Kedubes AS? Tapi saya akhirnya tetap akan membawa titipan tersebut dan memasukkannya di bagasi. Setelah penerbanan panjang dan akan mendarat di bandara pertama di AS, Los Angeles (LA), kami dibagikan form untuk diisi. Salah satunya dari Imigrasi dan Bea Cukai AS. Dan, benar, ternyata salah satu pertanyaan yang harus dijawab adalah apakah saya membawa produk hewan. Saya tadinya berpikir tidak akan mengisi karena menduga bagasi saya akan tiba di Boston langsung, bandara kedua di AS, tujuan akhir saya. Tapi bagaimana kalau bagasi ternyata harus diambil dulu di LA? Well, saya pun akhirnya memutuskan mengisi jawaban 'ya'.
Memasuki bandara Tom Bradley, LA, ternyata tak seribet yang saya bayangkan. Saat itu memang sekitar pukul 14.00. Jadi nggak terlalu puyeng. Dan antrian tidak parah saat berhadapan dengan meja petugas Imigrasi. Sejak dari pesawat, saya sudah siap-siap. Di bandara, saya diminta mengisi form biodata lagi. Tapi di kelompok saya umumnya hanya orang-orang Asia. Setelah mengisi form, scanning jari tangan dan difoto, saya pun dipersilakan memasuki antrian ke tempat pengambilan bagasi. Ternyata, disnilah saya diinterogasi spontan oleh petugas. "Produk hewan apa yang Anda bawa?," tanyanya. Saya kaget, karena tidak menyangka bukannya ditanyai saat pengisian form tadi, tapi malah menjelang masuk antrian. Celakanya, saya lupa setelah bilang 'kue' dan 'bumbu dapur', mestinya saya bilang 'spices', malah 'kitchen stuff'. Barang-barang dapur. Si petugas ini pun malah jadi penasaran. "Apa? Barang dapur bagaimana maksud Anda ?," tanyanya lagi. "Waduh, bisa panjang nih urusan," saya pikir. Saya pun menawarkan untuk membuka tas bagasi saya yang kebetulan cuma satu tas ransel punggung besar.
Mungkin karena antrian di belakang saya lumayan banyak, dia pun akhirnya menyilakan saya terus. "Ah, slame...t, slame....t," pikir saya. Nasib bumbu ayam dana sapi titipan teman saya itu akhirnya aman. Apalagi karena bumbu itu tertutup rapat sejak saat dibeli dan kering. Sebenarnya teman saya memang sudah bilang bahwa produk yang saya bawa akan 'aman'. Termasuk saat memasuki pintu 'scanning' berikutnya, bagasi saya tidak dicek lagi. Yang agak repot adalah memasuki pintu scanning terakhir, semua barang di badan kita yang mengandung logam harus dilepas. Tak kecuali ikat pinggang dan sepatu. Laptop juga harus dikeluarkan dari tasnya. Lolos dari sini, barulah kita memasuki ruang utama bandara Tom Bradley, LA. Perjuangan saya berikutnya adalah berdiam di bandara ini selama delapan jam hingga jam 22.30, menunggu penerbangan berikutnya ke Boston. "Phuih....!" (Bersambung/TO BE CONTINUED)
Tuesday, March 3, 2009
Yuni's excitement about meeting Hillary Clinton

How are you?, hopefully you are fine..
I would like to tell you a great things that yesterday (Thursday), on 19 February 2009, about seven journalists of Indonesia already had an oppourtunity met and also interviewed with US Secretary, Hillary Clinton at house of embassy, Cameron D Hume in Taman Suropati, Menteng, Jakarta.
It took for a half an hour, and its great moment that we already had here in having discussion with her. Also moderator by press attache US Embassy, Mr Tristram Perry.
Ms. Clinton is so nice and full of charisma. I really adored her. I had one of her pic.
The seven journalist are included from the journalist covering the US election in program emerson college, Boston.
They are mr. Muhammad Rusmadi (Rakyat Merdeka Newspaper), Simon Saragih (Kompas Newspaper), Ms.
Kiki (Trans TV), and me. At that time, we only had one question per each person in interviewing her.
Its an honour for me to had that oppourtunity in my lifetime.
keep contact and miss u all
god bless you,
yuni herlina sinambela
Hillary: Indonesia Penting Bagi AS
JAKARTA (SINDO) - Amerika Serikat (AS) ingin membentuk sebuah kerjasama komprehensif yang baik dengan Indonesia, sebagaimana diungkapkan Menteri Luar Negeri AS Hillary Rodham Clinton saat memulai kunjungannya ke Jakarta, kemarin.
“Kemitraan antara kedua negara ini, yang kami yakini akan menggerakkan demokrasi dan pembangunan, akan memberikan kerangka untuk memajukan kepentingan bersama kedua belah pihak di beberapa isu regional dan global seperti perlindungan lingkungan dan perubahan iklim, perdagangan dan investasi, promosi demokrasi, kesehatan, pendidikan, keamanan nasional dan kontra-terorisme,” ujar Hillary saat menggelar jumpa pers gabungan bersama Menteri Luar Negeri Indonesia Hassan Wirajuda, kemarin.
Lebih lanjut, Hilary menegaskan bahwa Indonesia memiliki kepentingan strategis sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan demokrasi ketiga terbesar di dunia dan hal itu telah diakui AS.
“Kami memiliki nilai yang sama, kita sama-sama telah menjalankan demokrasi. Indonesia telah mengalami transformasi besar dalam 10 tahun terakhir, membangun dan mengembangkan institusi yang kuat, menyambut baik dan mengembangkan masyarakat sipil yang dinamis,” papar Hillary.
“Dan, pada saat yang sama, Indonesia juga menghormati hak asasi manusia dan sukses dalam memerangi terorisme dan ekstrimisme, mengakhiri konflik sektarian dan separatis dan berusaha membuat dunia sebagai tempat yang lebih nyaman bagi perdagangan global dan dilindunginya hak asasi manusia,” imbuhnya.
Hillary juga mengatakan, bahwa pemerintahan Presiden Barack Obama ingin menggandeng seluruh dunia dan karenanya, Indonesia akan menjadi partner penting dalam usaha itu. “Jadi, kami berusaha mempererat kerjasama kami pada sejumlah isu,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Menlu Hassan Wirajuda juga mengungkapkan bahwa Indonesia juga tidak bisa lepas dari pengaruh buruk krisis ekonomi yang sedang dihadapi AS.
“Sebagai negara yang sedang berkembang, Indonesia akan terpengaruh dampak negatif krisis finansial global. Kami akan terus saling berhubungan untuk mencari jalan apakah AS bisa membantu Indonesia untuk mengatasi krisis keuangan ini,” beber Hassan.
Hillary menjawab tantangan itu dengan mengatakan, sebagai anggota G20, Indonesia dan AS harus bekerja sama untuk memperbaiki pertumbuhan ekonomi dan terwujudnya kemakmuran.
“Tiap negara menghadapi masalah ini, tapi tidak ada negara yang bisa melakukannya sendir. Dan, meskipun Indonesia memproyeksikan rata-rata pertumbuhan positif, jelas bahwa Indonesia butuh dukungan dari teman dan sekutnya di Asia dan seluruh dunia,” papar Hillary.
Selain itu, Hillary juga memuji langkah Indonesia untuk melakukan langkah nyata dalam upaya memerangi global warming (pemanasan global) dengan memberi selamat atas suksesnya pelaksanaan konferensi tingkat tinggi global warming beberapa tahun lalu di Bali.
Dalam jumpa pers itu, Hillary juga menyampaikan salam dari Obama. “Saya menyampaikan salam dari Presiden Obama, yang mengatakan dan menulis sendiri tentang pentingnya masa kecilnya di sini. Ini memberikannya pandangan tidak hanya pada kebudayaan yang berbeda dan beragam, tapi juga kapasistas rakyatnya dengan perbedaan latar belakang yang bisa hidup dengan harmoni bersama-sama,” ujarnya.
Pernyataan ini diamini Hassan yang mengatakan,”Kami telah membuktikan bahwa di sini, demokrasi, Islam dan modernitas bisa berjalan beriringan.”
Di akhir jumpa pers, Hassan sempat menanyakan kepada Hillary tentang kemungkinan kedatangan Obama ke Indonesia. “Kami tidak sabar menyambut kehadiran Presiden Obama ke Indonesia,” papar Hassan.
Pertanyaan itu disambut Hillary dengan penuh senyuman. Tak tampak lelah di wajah istri mantan Presiden AS Bill Clinton itu yang telah menempuh perjalanan jauh dari Tokyo ke Jakarta, kemarin.
Selain mengungkapkan keinginan AS untuk membentuk kemitraan komprehensif dengan Indonesia, Hillary juga melontarkan beberapa cerita santai yang menjadi pengalamannya.
“Saya pernah berkunjung ke Indonesia ketika masih menjadi ibu negara AS. Dan, ini bukanlah suatu kebetulan jika saya bisa kembali berkunjung ke negara ini sebagai menteri luar negeri. Jadi ini bukan kunjungan pertama saya,” paparnya.
Sementara itu, saat menghadiri jamuan makan malam bersama 75 tokoh Indonesia di Gedung Arsip Nasional di Jakarta, Hillary terlihat lebih rileks. Suciwati, Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta Fauzi “Foke” Bowo, Lili Munir, Theo L Sambuaga, dan Mooryati Soedibyo tampak berada di antara para tamu.
Hillary memperkenalkan beberapa staf Departemen Luar Negeri AS yang dia ajak berkunjung kepada para hadirin sebelum melontarkan beberapa pengalamannnya.
“Saya ingat pernah berkunjung ke sebuah daerah di Indonesia ketika saya masih menjadi ibu negara, ada seorang ibu yang melahirkan dirawat di bawah pohon, itu membuat saya prihatin,” tuturnya sambil menambahkan ibu itu harus datang sekali sepekan ke bawah pohon itu untuk memeriksakan bayinya.
Hal itu membuatnya berpikir betapa pentingnya pembangunan masyarakat sipil di semua negara. Dia mengatakan, pembangunan masyarakat sipil menjadi salah satu agenda penting dalam pemerintahan Presiden Obama saat ini. Masyarakat sipil dipandang sebagai salah satu faktor penting dalam mewujudkan demokrasi di berbagai belahan dunia.
Dia juga mengatakan, bahwa pemilu adalah salah satu sarana untuk belajar berdemokrasi. Menurut dia, selalu ada yang menang dan kalah dalam pemilu. “Dan, kadang sulit menerima kekalahan, karena Anda tahu kita berada dalam sistem demokrasi dan kita punya partai. Jadi ada orang yang mengatakan bahwa kita akan menang, tapi, kenyataan tidak terjadi seperti itu,” ujarnya.
Ketika kekalahan itu terjadi, maka orang yang kalah seharusnya legawa dan tidak perlu ada dendam. “Saya mengalaminya. Saya tahu betapa pentingnya di sistem demokrasi bahwa kita harus menerima hasil pemilu dan kita harus bekerja terus di dalam sistem atau di luar untuk membawa perubahan kepada keadaan yang terjadi dan juga demokarsi setelah pemilu, anda harus tahu apa yang harus Anda lakukan,” paparnya.
“Meski kalah, Anda tetap harus bekerjasama. Saya adalah orang yang paling kaget di dunia ketika Presiden Obama meminta saya menjadi menteri luar negeri. Ini adalah komitmen saya untuk berjuang bagi negara dan saya mengatakan iya,” imbuh Hillary yang disambut tepuk tangan hadirin. (alvin masrifah)
“Kemitraan antara kedua negara ini, yang kami yakini akan menggerakkan demokrasi dan pembangunan, akan memberikan kerangka untuk memajukan kepentingan bersama kedua belah pihak di beberapa isu regional dan global seperti perlindungan lingkungan dan perubahan iklim, perdagangan dan investasi, promosi demokrasi, kesehatan, pendidikan, keamanan nasional dan kontra-terorisme,” ujar Hillary saat menggelar jumpa pers gabungan bersama Menteri Luar Negeri Indonesia Hassan Wirajuda, kemarin.
Lebih lanjut, Hilary menegaskan bahwa Indonesia memiliki kepentingan strategis sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan demokrasi ketiga terbesar di dunia dan hal itu telah diakui AS.
“Kami memiliki nilai yang sama, kita sama-sama telah menjalankan demokrasi. Indonesia telah mengalami transformasi besar dalam 10 tahun terakhir, membangun dan mengembangkan institusi yang kuat, menyambut baik dan mengembangkan masyarakat sipil yang dinamis,” papar Hillary.
“Dan, pada saat yang sama, Indonesia juga menghormati hak asasi manusia dan sukses dalam memerangi terorisme dan ekstrimisme, mengakhiri konflik sektarian dan separatis dan berusaha membuat dunia sebagai tempat yang lebih nyaman bagi perdagangan global dan dilindunginya hak asasi manusia,” imbuhnya.
Hillary juga mengatakan, bahwa pemerintahan Presiden Barack Obama ingin menggandeng seluruh dunia dan karenanya, Indonesia akan menjadi partner penting dalam usaha itu. “Jadi, kami berusaha mempererat kerjasama kami pada sejumlah isu,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Menlu Hassan Wirajuda juga mengungkapkan bahwa Indonesia juga tidak bisa lepas dari pengaruh buruk krisis ekonomi yang sedang dihadapi AS.
“Sebagai negara yang sedang berkembang, Indonesia akan terpengaruh dampak negatif krisis finansial global. Kami akan terus saling berhubungan untuk mencari jalan apakah AS bisa membantu Indonesia untuk mengatasi krisis keuangan ini,” beber Hassan.
Hillary menjawab tantangan itu dengan mengatakan, sebagai anggota G20, Indonesia dan AS harus bekerja sama untuk memperbaiki pertumbuhan ekonomi dan terwujudnya kemakmuran.
“Tiap negara menghadapi masalah ini, tapi tidak ada negara yang bisa melakukannya sendir. Dan, meskipun Indonesia memproyeksikan rata-rata pertumbuhan positif, jelas bahwa Indonesia butuh dukungan dari teman dan sekutnya di Asia dan seluruh dunia,” papar Hillary.
Selain itu, Hillary juga memuji langkah Indonesia untuk melakukan langkah nyata dalam upaya memerangi global warming (pemanasan global) dengan memberi selamat atas suksesnya pelaksanaan konferensi tingkat tinggi global warming beberapa tahun lalu di Bali.
Dalam jumpa pers itu, Hillary juga menyampaikan salam dari Obama. “Saya menyampaikan salam dari Presiden Obama, yang mengatakan dan menulis sendiri tentang pentingnya masa kecilnya di sini. Ini memberikannya pandangan tidak hanya pada kebudayaan yang berbeda dan beragam, tapi juga kapasistas rakyatnya dengan perbedaan latar belakang yang bisa hidup dengan harmoni bersama-sama,” ujarnya.
Pernyataan ini diamini Hassan yang mengatakan,”Kami telah membuktikan bahwa di sini, demokrasi, Islam dan modernitas bisa berjalan beriringan.”
Di akhir jumpa pers, Hassan sempat menanyakan kepada Hillary tentang kemungkinan kedatangan Obama ke Indonesia. “Kami tidak sabar menyambut kehadiran Presiden Obama ke Indonesia,” papar Hassan.
Pertanyaan itu disambut Hillary dengan penuh senyuman. Tak tampak lelah di wajah istri mantan Presiden AS Bill Clinton itu yang telah menempuh perjalanan jauh dari Tokyo ke Jakarta, kemarin.
Selain mengungkapkan keinginan AS untuk membentuk kemitraan komprehensif dengan Indonesia, Hillary juga melontarkan beberapa cerita santai yang menjadi pengalamannya.
“Saya pernah berkunjung ke Indonesia ketika masih menjadi ibu negara AS. Dan, ini bukanlah suatu kebetulan jika saya bisa kembali berkunjung ke negara ini sebagai menteri luar negeri. Jadi ini bukan kunjungan pertama saya,” paparnya.
Sementara itu, saat menghadiri jamuan makan malam bersama 75 tokoh Indonesia di Gedung Arsip Nasional di Jakarta, Hillary terlihat lebih rileks. Suciwati, Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta Fauzi “Foke” Bowo, Lili Munir, Theo L Sambuaga, dan Mooryati Soedibyo tampak berada di antara para tamu.
Hillary memperkenalkan beberapa staf Departemen Luar Negeri AS yang dia ajak berkunjung kepada para hadirin sebelum melontarkan beberapa pengalamannnya.
“Saya ingat pernah berkunjung ke sebuah daerah di Indonesia ketika saya masih menjadi ibu negara, ada seorang ibu yang melahirkan dirawat di bawah pohon, itu membuat saya prihatin,” tuturnya sambil menambahkan ibu itu harus datang sekali sepekan ke bawah pohon itu untuk memeriksakan bayinya.
Hal itu membuatnya berpikir betapa pentingnya pembangunan masyarakat sipil di semua negara. Dia mengatakan, pembangunan masyarakat sipil menjadi salah satu agenda penting dalam pemerintahan Presiden Obama saat ini. Masyarakat sipil dipandang sebagai salah satu faktor penting dalam mewujudkan demokrasi di berbagai belahan dunia.
Dia juga mengatakan, bahwa pemilu adalah salah satu sarana untuk belajar berdemokrasi. Menurut dia, selalu ada yang menang dan kalah dalam pemilu. “Dan, kadang sulit menerima kekalahan, karena Anda tahu kita berada dalam sistem demokrasi dan kita punya partai. Jadi ada orang yang mengatakan bahwa kita akan menang, tapi, kenyataan tidak terjadi seperti itu,” ujarnya.
Ketika kekalahan itu terjadi, maka orang yang kalah seharusnya legawa dan tidak perlu ada dendam. “Saya mengalaminya. Saya tahu betapa pentingnya di sistem demokrasi bahwa kita harus menerima hasil pemilu dan kita harus bekerja terus di dalam sistem atau di luar untuk membawa perubahan kepada keadaan yang terjadi dan juga demokarsi setelah pemilu, anda harus tahu apa yang harus Anda lakukan,” paparnya.
“Meski kalah, Anda tetap harus bekerjasama. Saya adalah orang yang paling kaget di dunia ketika Presiden Obama meminta saya menjadi menteri luar negeri. Ini adalah komitmen saya untuk berjuang bagi negara dan saya mengatakan iya,” imbuh Hillary yang disambut tepuk tangan hadirin. (alvin masrifah)
US Secretary of State Hillary Rodham Clinton meets the project participants.
Jakarta, Indonesia- It was a bright thursday, seven journalist national media of Indonesia had an oppourtunity to meet with sec US, Hillary Rodham Clinton at house of embassy US in Menteng,Jakarta, Indonesia.
(Thursday 19 February 2009).
One of the seven journalists is from online media,names okezone.com.
At that time, I am already prepared for one question asking mrs Hillary.
At 11 am, one of the staff US embassy from inside house told us with his hint to come to inside because mrs clinton already waiting for our coming.
Got his hint,we run away to US embassy,,so excited,,even we must had a security check.
We are pleased by all the US embassy staf and I saw mr. Tristram Perry as a moderator for us.
10 minutes passed, mrs clinton come and greeting us, we shaking our hand.
She was adorable,smart,elegance and full of charisma.
One by one with had a chance asked question to her.
From our comunication, on my point from her is mrs clinton as a representative from president of US, Barack Obama wants to give a key message in reaching a people all of the world by communication people to people so democracy will going through helping poor people.
I am also asking, mrs clinton as a former first lady,lawyer and now as a secretary US already had everything,and my question is what do you feel if everything that you already had now is lost??,
The reaction I saw when I asking that question,she laughing ha ha ha
And she said, I'm just fortunately, all of my life just goes on, I follow all of the time just for helping poor people and I just love it so.
As a secretary US, she never imagine that but her view and obama has a relevance view and that's the reason why obama choose her as second US embassy.
Time is up and then we wrap the wonderful by taking a nice pictures with a great lady.
(Thursday 19 February 2009).
One of the seven journalists is from online media,names okezone.com.
At that time, I am already prepared for one question asking mrs Hillary.
At 11 am, one of the staff US embassy from inside house told us with his hint to come to inside because mrs clinton already waiting for our coming.
Got his hint,we run away to US embassy,,so excited,,even we must had a security check.
We are pleased by all the US embassy staf and I saw mr. Tristram Perry as a moderator for us.
10 minutes passed, mrs clinton come and greeting us, we shaking our hand.
She was adorable,smart,elegance and full of charisma.
One by one with had a chance asked question to her.
From our comunication, on my point from her is mrs clinton as a representative from president of US, Barack Obama wants to give a key message in reaching a people all of the world by communication people to people so democracy will going through helping poor people.
I am also asking, mrs clinton as a former first lady,lawyer and now as a secretary US already had everything,and my question is what do you feel if everything that you already had now is lost??,
The reaction I saw when I asking that question,she laughing ha ha ha
And she said, I'm just fortunately, all of my life just goes on, I follow all of the time just for helping poor people and I just love it so.
As a secretary US, she never imagine that but her view and obama has a relevance view and that's the reason why obama choose her as second US embassy.
Time is up and then we wrap the wonderful by taking a nice pictures with a great lady.
Subscribe to:
Posts (Atom)